Tuesday, March 1, 2016

Berlari dalam Harmoni- PROLOG

Aku memejamkan mata dan menikmati kata demi kata yang muncul dalam benakku.

You’re not alone

Together we stand

I’ll be by your side

You know I’ll take your hand

Tanganku mengayun keras seolah letusan lava vulkanik pun tak akan bisa mencegahnya bercerita. Mungkin saja, aku tetap tidak akan berhenti sekalipun terjadi gempa bumi. Sore itu, aku memberikan perhatianku seutuhnya pada lonjakan-lonjakan pada kekuatan lenganku. Naik dan turun, aku mengungkapkannya lewat dorongan dan tarikan.

And it feels like the end

There’s no place to go

You know I won’t give in

No, I won’t give in

Senar demi senar yang berbunyi memberikanku sebuah kedamaian. Mulutku diam, namun hatiku tidak. Nada-nada yang dihasilkan oleh gesekanku membiarkan otakku bergumam dan asyik sendiri. Ia sibuk mencerna kata demi kata dari lirik lagu tersebut, bagian dari kepalaku itu bergumul sendiri tanpa takut.

Aku menaruh alat gesek bernama bow itu disamping sosokku yang kini berjongkok, menikmati suasana teduh di ruangan kosong tersebut. Diriku juga membiarkan dinding-dinding putih susu memuaskan penglihatanku, dan ternyata menerawang di hadapan tembok cukup seru juga. Biarkan biola ini menenangkanku dari gundah gulana yang melanda. Seorang gadis SMA harus bisa tampil oke dan ceria, bukan?

Setiap aku bertanya, teman-teman di kelas akan bilang aku Kelly. Ada yang bilang, ‘Kelly yang anak pejabat itu?’ dan ada juga yang akan berkata, ‘Kelly itu anak yang aneh itu, kan?’. Kalau guru-guruku, jangan harap mereka mau berkomentar tentang sesosok Kelly yang tidak pernah diajak berbicara di kelas. Aku tahu ini bukan salah Papa yang menjadi sosok penting di sekolah akibat donasinya, ini hanya diriku yang tidak bisa menyesuaikan diri.

Akibat anggapan-anggapan yang seolah nggak berhenti berputar bagaikan siklus pembentukan hujan, aku mulai lelah. Kemungkinan orang untuk berhenti menjadi menyebalkan itu sekecil kemungkinan bertemunya pangeran luar angkasa dengan putri duyung di dasar samudera. Ya sudah lah, kita memang tidak bisa mengubah orang. Namun, aku harus ingat pesan Mama untukku. Seorang Kelly tidak boleh nyerah, seorang Kelly adalah prajurit tangguh. Itu juga doa Mama dan Papa saat memberikanku nama ini, mereka mengharapkan seorang perempuan setangguh prajurit.

Guru-guru risih denganku  sehingga tidak memungkinkan diriku meminta bantuan di kala tidak mengerti pelajaran fisika, kimia, biologi, dan sebetulnya semua pelajaran. Mungkin, mereka yang tidak suka padaku hanyalah perasaanku semata. Intinya, aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertanya saat aku merasa tidak jelas dan tidak cukup pintar untuk mengikuti penjelasan yang beliau-beliau ajarkan di kelas. Kalau aku cerita seperti ini ke sanak saudaraku, mereka pasti akan menertawakanku sebagai anak-sudah-kelas-duabelas-namun-masih-lemot. Jangan mengharapkan aku mau ikut berkumpul sekeluarga besar dengan senang hati, aku sudah malas diremehkan. Sepertinya, aku terlalu sensitif dan memikirkan apapun yang pernah terjadi. Termasuk di antaranya bagaimana semua tante dan om menjadikanku bahan olok yang paling enak, sasaran empuk. ‘Lihat, si sepupu A sudah sukses, si sepupu B sudah seperti ini, si anak ini sudah begini, dan kamu masih begini saja?’

Keep holding on

‘Cause you know we’ll make it through

We’ll make it through

Aku nggak bisa mencegah keinginanku sendiri untuk meninggalkan si biola kesayangan. Sosokku yang berjongkok kini menjauhi lantai dan berdiri tegap. Tangan kananku mulai sibuk mendorong dan menarik kembali, sementara jari-jari di tangan kiri sigap menekan dan melepasnya. Sebuah harmoni.

Setidaknya, aku harus memedulikan diriku sendiri. Aku punya nyawa, punya nama, dan aku bereksistensi. Bisa jadi yang lain-lainnya itu simpel, namun aku sendiri yang membuatnya rumit. Terkadang, saat-saat seperti ini memang datang mendera pikiranku yang seperti anak itik kehilangan induk. Kusut. Kacau. Kalau sudah lelah, aku akan mencari perlindungan ke sesuatu yang bisa membuatku lari sejenak. Mungkin saja, cukup itu sajalah yang kubutuhkan untuk menghadapi semua ini.

Just stay strong

‘Cause you know I’m here for you,

I’m here for you

Lagi-lagi, aku menutup mata dan menikmati pemandangan hitam yang tersaji di hadapanku. Sebetulnya, hitam itu indah dan tenang. Tidak ada lagi warna-warna yang membuat pusing, serpihan-serpihan yang menyatukan sebuah luka.  Semuanya hilang, saat pemandangan hitam tersebut memanggil angin untuk menyentuh keseluruhan wajah. Rasanya, saat tersebut adalah masa-masa diriku berteman dengan si Kelly ini sendiri.

Aku pun masih memegang mantap biolaku ketika aku mengingat Carlos, kakak laki-lakiku. Orang itu memiliki alis tebal yang menawan, senyum nakal yang menarik, dan juga sepasang mata indah yang bisa membuat siapapun terpukau. Aku selalu bangga untuk menyebutnya kakakku. Saat aku di sekolah menengah pertama dulu, para senior akan memanggilku sebagai ‘adiknya Carlos’. Lagipula, sedikit sekali kemungkinan anak-anak di sekolah lama tersebut tidak mengetahui Carlos Hutama yang cerdas, atletis, dan berbakat menjadi pemimpin.  Si sosok siswa teladan yang seolah-olah sempurna.

Carlos, si cowok idaman itu, tidak memiliki hidup sesempurna yang orang-orang katakan. Aku sering sedih setiap melihat kakakku termenung saat Mama selalu mendorongnya untuk mempertahankan gelar juara satunya. Atau juga, ketika Papa membujuknya untuk mengikuti klub basket yang memiliki prestige tinggi. Ia memang tetap menyunggingkan senyum manis seperti biasa, namun lehernya menelan ludah yang disertai dengan kepahitan-kepahitan. Ia khawatir akan mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Lebih parahnya lagi, Carlos sering bercerita kepadaku  betapa ia takut tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Sosok yang sudah akrab denganku sejak kami balita tersebut tidak bisa mentoleransi jika dirinya menyia-nyiakan sesuatu yang sebetulnya masih dalam ranah ‘tidak apa-apa’. Ya, begitulah sosok asli si pelajar idaman yang di puja-puja banyak cewek pemandu sorak. Aku tahu ini tidak segemerlap apa yang di bisikkan orang-orang.

Aku dan Carlos masih sering bercerita hingga saat-saat aku SMA dan ia kuliah seperti saat ini. Carlos masih sama baiknya seperti kakakku yang dulu, ia tidak pernah berubah. Dia selalu berhasil menjadi kakak andalan yang selalu bisa menjadi sandaran. Kami seringkali bercerita di tempatku berdiri sekarang ini, sebuah ruang kosong di lantai dua yang memiliki jendela lebar. Ruangan ini belum terpakai hingga sekarang, namun kekosongan tersebutlah yang membuatku cocok nangkring disana. Mungkin memang aneh, namun aku senang sekali membuka dan menutup jendelanya hingga angin bisa memainkan rambutku. Ya, ia memang iseng dan senang sekali memelintir dan membuat berantakan rambutku. Namun tidak apa-apa, aku tetap menyayanginya sebagai salah satu teman yang membuatku tenang.

Kembali lagi ke Carlos, saat ini aku khawatir padanya. Ia menjadi murung akhir-akhir ini. Menurut pengamatanku, ini terjadi semenjak penghinaan yang dialaminya dari dosen beberapa waktu yang lalu. Ia nggak terima di bilang bodoh. Carlos tahu ia pasti akan menghadapi hal-hal seperti ini, entah sekarang atau nanti saat kerja. Namun, kakakku kini tidak ingin sering tersenyum. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mempelajari rumus-rumus konstruksi dengan buku-buku teknik sipilnya. Setiap kali aku masuk ke kamarnya, ia selalu sedang serius membolak-balik halaman buku dengan ketebalan yang cukup enak untuk menimpuk maling. Tangannya dengan gesit selalu mencatat di kertas sebelahnya setiap ia mendapat suatu pencerahan. Namun, ia tidak senang dan tidak rela. Carlos sedih dan terpukul.

There’s nothing you could say

Nothing you could do

There’s no other way when it comes to the truth

Sepertinya keadaannya cukup buruk. Ia bilang mimpi buruk selalu menghantuinya hingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lebih parahnya lagi, ia sering berkata orang-orang yang meneriakinya walaupun aku tidak pernah mendapati siapapun melakukannya.  Carlos membelalak setiap kali ia bercerita denganku dan memijit-mijit keras kepalanya, berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan takut yang nggak pernah mau meninggalkannya. ‘Mungkin rasa takut terlalu sayang padaku’, Carlos pernah berujar sambil terkekeh pahit. Tolong, hatiku tidak kuasa melihatnya seperti ini. Mengapa harus Carlos si kakak sempurna yang menjadi idola semua orang yang mengalaminya?

Aku sudah tidak boleh terlalu sedih. Hatiku sudah cukup sakit melihat Carlos, ditambah dengan Mama dan Papa yang juga tidak sejahtera. Semua ini seperti berlari dalam labirin yang terus menduplikat dirinya, menghilangkan jalan keluar yang seharusnya sudah kutemukan.

Hear me when I say, when I say I believe

Nothing’s gonna change

Nothing’s gonna change destiny

(Avril Lavigne – Keep holding on)

Bagaimana ini, biolaku? Tolong ajari aku cara untuk bahagia kembali, mungkin sebuah buku panduan cukup efektif untuk membantuku. Berikan aku tips untuk menyelesaikan teka-teki ini.

 

 

No comments:

Post a Comment