Aku memejamkan mata dan menikmati kata demi kata yang muncul
dalam benakku.
You’re not alone
Together we stand
I’ll be by your side
You know I’ll take
your hand
Tanganku mengayun keras seolah letusan lava vulkanik pun tak
akan bisa mencegahnya bercerita. Mungkin saja, aku tetap tidak akan berhenti
sekalipun terjadi gempa bumi. Sore itu, aku memberikan perhatianku seutuhnya
pada lonjakan-lonjakan pada kekuatan lenganku. Naik dan turun, aku
mengungkapkannya lewat dorongan dan tarikan.
And it feels like the
end
There’s no place to go
You know I won’t give
in
No, I won’t give in
Senar demi senar yang berbunyi memberikanku sebuah
kedamaian. Mulutku diam, namun hatiku tidak. Nada-nada yang dihasilkan oleh
gesekanku membiarkan otakku bergumam dan asyik sendiri. Ia sibuk mencerna kata
demi kata dari lirik lagu tersebut, bagian dari kepalaku itu bergumul sendiri
tanpa takut.
Aku menaruh alat gesek bernama bow itu disamping sosokku yang kini berjongkok, menikmati suasana
teduh di ruangan kosong tersebut. Diriku juga membiarkan dinding-dinding putih
susu memuaskan penglihatanku, dan ternyata menerawang di hadapan tembok cukup
seru juga. Biarkan biola ini menenangkanku dari gundah gulana yang melanda.
Seorang gadis SMA harus bisa tampil oke dan ceria, bukan?
Setiap aku bertanya, teman-teman di kelas akan bilang aku
Kelly. Ada yang bilang, ‘Kelly yang anak pejabat itu?’ dan ada juga yang akan
berkata, ‘Kelly itu anak yang aneh itu, kan?’. Kalau guru-guruku, jangan harap
mereka mau berkomentar tentang sesosok Kelly yang tidak pernah diajak berbicara
di kelas. Aku tahu ini bukan salah Papa yang menjadi sosok penting di sekolah
akibat donasinya, ini hanya diriku yang tidak bisa menyesuaikan diri.
Akibat anggapan-anggapan yang seolah nggak berhenti berputar
bagaikan siklus pembentukan hujan, aku mulai lelah. Kemungkinan orang untuk
berhenti menjadi menyebalkan itu sekecil kemungkinan bertemunya pangeran luar
angkasa dengan putri duyung di dasar samudera. Ya sudah lah, kita memang tidak
bisa mengubah orang. Namun, aku harus ingat pesan Mama untukku. Seorang Kelly
tidak boleh nyerah, seorang Kelly adalah prajurit tangguh. Itu juga doa Mama
dan Papa saat memberikanku nama ini, mereka mengharapkan seorang perempuan
setangguh prajurit.
Guru-guru risih denganku
sehingga tidak memungkinkan diriku meminta bantuan di kala tidak
mengerti pelajaran fisika, kimia, biologi, dan sebetulnya semua pelajaran.
Mungkin, mereka yang tidak suka padaku hanyalah perasaanku semata. Intinya, aku
sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertanya saat aku merasa tidak
jelas dan tidak cukup pintar untuk mengikuti penjelasan yang beliau-beliau
ajarkan di kelas. Kalau aku cerita seperti ini ke sanak saudaraku, mereka pasti
akan menertawakanku sebagai anak-sudah-kelas-duabelas-namun-masih-lemot. Jangan
mengharapkan aku mau ikut berkumpul sekeluarga besar dengan senang hati, aku
sudah malas diremehkan. Sepertinya, aku terlalu sensitif dan memikirkan apapun
yang pernah terjadi. Termasuk di antaranya bagaimana semua tante dan om menjadikanku
bahan olok yang paling enak, sasaran empuk. ‘Lihat, si sepupu A sudah sukses,
si sepupu B sudah seperti ini, si anak ini sudah begini, dan kamu masih begini
saja?’
Keep holding on
‘Cause you know we’ll
make it through
We’ll make it through
Aku nggak bisa mencegah keinginanku sendiri untuk
meninggalkan si biola kesayangan. Sosokku yang berjongkok kini menjauhi lantai
dan berdiri tegap. Tangan kananku mulai sibuk mendorong dan menarik kembali,
sementara jari-jari di tangan kiri sigap menekan dan melepasnya. Sebuah
harmoni.
Setidaknya, aku harus memedulikan diriku sendiri. Aku punya
nyawa, punya nama, dan aku bereksistensi. Bisa jadi yang lain-lainnya itu
simpel, namun aku sendiri yang membuatnya rumit. Terkadang, saat-saat seperti
ini memang datang mendera pikiranku yang seperti anak itik kehilangan induk.
Kusut. Kacau. Kalau sudah lelah, aku akan mencari perlindungan ke sesuatu yang
bisa membuatku lari sejenak. Mungkin saja, cukup itu sajalah yang kubutuhkan
untuk menghadapi semua ini.
Just stay strong
‘Cause you know I’m
here for you,
I’m here for you
Lagi-lagi, aku menutup mata dan menikmati pemandangan hitam
yang tersaji di hadapanku. Sebetulnya, hitam itu indah dan tenang. Tidak ada
lagi warna-warna yang membuat pusing, serpihan-serpihan yang menyatukan sebuah
luka. Semuanya hilang, saat pemandangan
hitam tersebut memanggil angin untuk menyentuh keseluruhan wajah. Rasanya, saat
tersebut adalah masa-masa diriku berteman dengan si Kelly ini sendiri.
Aku pun masih memegang mantap biolaku ketika aku mengingat
Carlos, kakak laki-lakiku. Orang itu memiliki alis tebal yang menawan, senyum
nakal yang menarik, dan juga sepasang mata indah yang bisa membuat siapapun
terpukau. Aku selalu bangga untuk menyebutnya kakakku. Saat aku di sekolah
menengah pertama dulu, para senior akan memanggilku sebagai ‘adiknya Carlos’.
Lagipula, sedikit sekali kemungkinan anak-anak di sekolah lama tersebut tidak
mengetahui Carlos Hutama yang cerdas, atletis, dan berbakat menjadi
pemimpin. Si sosok siswa teladan yang
seolah-olah sempurna.
Carlos, si cowok idaman itu, tidak memiliki hidup sesempurna
yang orang-orang katakan. Aku sering sedih setiap melihat kakakku termenung
saat Mama selalu mendorongnya untuk mempertahankan gelar juara satunya. Atau
juga, ketika Papa membujuknya untuk mengikuti klub basket yang memiliki prestige tinggi. Ia memang tetap
menyunggingkan senyum manis seperti biasa, namun lehernya menelan ludah yang
disertai dengan kepahitan-kepahitan. Ia khawatir akan mengecewakan orang-orang
yang ia sayangi. Lebih parahnya lagi, Carlos sering bercerita kepadaku betapa ia takut tidak akan bisa memaafkan
dirinya sendiri. Sosok yang sudah akrab denganku sejak kami balita tersebut
tidak bisa mentoleransi jika dirinya menyia-nyiakan sesuatu yang sebetulnya
masih dalam ranah ‘tidak apa-apa’. Ya, begitulah sosok asli si pelajar idaman
yang di puja-puja banyak cewek pemandu sorak. Aku tahu ini tidak segemerlap apa
yang di bisikkan orang-orang.
Aku dan Carlos masih sering bercerita hingga saat-saat aku
SMA dan ia kuliah seperti saat ini. Carlos masih sama baiknya seperti kakakku
yang dulu, ia tidak pernah berubah. Dia selalu berhasil menjadi kakak andalan
yang selalu bisa menjadi sandaran. Kami seringkali bercerita di tempatku
berdiri sekarang ini, sebuah ruang kosong di lantai dua yang memiliki jendela
lebar. Ruangan ini belum terpakai hingga sekarang, namun kekosongan tersebutlah
yang membuatku cocok nangkring disana. Mungkin memang aneh, namun aku senang
sekali membuka dan menutup jendelanya hingga angin bisa memainkan rambutku. Ya,
ia memang iseng dan senang sekali memelintir dan membuat berantakan rambutku.
Namun tidak apa-apa, aku tetap menyayanginya sebagai salah satu teman yang
membuatku tenang.
Kembali lagi ke Carlos, saat ini aku khawatir padanya. Ia
menjadi murung akhir-akhir ini. Menurut pengamatanku, ini terjadi semenjak
penghinaan yang dialaminya dari dosen beberapa waktu yang lalu. Ia nggak terima
di bilang bodoh. Carlos tahu ia pasti akan menghadapi hal-hal seperti ini,
entah sekarang atau nanti saat kerja. Namun, kakakku kini tidak ingin sering
tersenyum. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mempelajari rumus-rumus
konstruksi dengan buku-buku teknik sipilnya. Setiap kali aku masuk ke kamarnya,
ia selalu sedang serius membolak-balik halaman buku dengan ketebalan yang cukup
enak untuk menimpuk maling. Tangannya dengan gesit selalu mencatat di kertas
sebelahnya setiap ia mendapat suatu pencerahan. Namun, ia tidak senang dan
tidak rela. Carlos sedih dan terpukul.
There’s nothing you
could say
Nothing you could do
There’s no other way
when it comes to the truth
Sepertinya keadaannya cukup buruk. Ia bilang mimpi buruk
selalu menghantuinya hingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lebih parahnya
lagi, ia sering berkata orang-orang yang meneriakinya walaupun aku tidak pernah
mendapati siapapun melakukannya. Carlos
membelalak setiap kali ia bercerita denganku dan memijit-mijit keras kepalanya,
berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan takut yang nggak pernah mau
meninggalkannya. ‘Mungkin rasa takut terlalu sayang padaku’, Carlos pernah
berujar sambil terkekeh pahit. Tolong, hatiku tidak kuasa melihatnya seperti
ini. Mengapa harus Carlos si kakak sempurna yang menjadi idola semua orang yang
mengalaminya?
Aku sudah tidak boleh terlalu sedih. Hatiku sudah cukup sakit
melihat Carlos, ditambah dengan Mama dan Papa yang juga tidak sejahtera. Semua
ini seperti berlari dalam labirin yang terus menduplikat dirinya, menghilangkan
jalan keluar yang seharusnya sudah kutemukan.
Hear me when I say,
when I say I believe
Nothing’s gonna change
Nothing’s gonna change
destiny
(Avril Lavigne – Keep
holding on)
Bagaimana ini, biolaku? Tolong ajari aku cara untuk bahagia
kembali, mungkin sebuah buku panduan cukup efektif untuk membantuku. Berikan
aku tips untuk menyelesaikan teka-teki ini.
No comments:
Post a Comment