Ruangan tersebut berwangi harum.
Kenyamanan ditambah pula dengan pendingin ruangan yang segar. Aku melihat
beberapa gambar di tembok, kelihatannya di hasilkan oleh anak-anak. Ada yang
menggambar binatang seperti ikan hiu, ada yang menggambar putri bergaun indah,
dan ada pula yang menggambar bentuk-bentuk dengan wajahnya. Di sebelahku
terdapat kursi-kursi berwarna hijau muda, sementara di sisi yang satu lagi
terdapat karpet halus tempat para anak bermain dengan senang. Di depanku kini
terdapat dua orang berseragam hijau, keduanya tersenyum ramah. Wanita di
sebelah kiri terlihat ramah dengan rambut yang di kuncir kuda. “Selamat datang
di Klinik Kupu-Kupu!”
Aku, Mama, dan Carlos mengangguk.
Carlos terlihat murung namun ia untungnya masih bisa tersenyum. Saat itu,
ruangan cukup ramai. Aku dan Mama duduk di barisan kursi tunggu, sementara
Carlos memilih mondar-mandir mengamati semua pajangan di tembok klinik praktik
psikolog tersebut. Untuk sesaat, Carlos terlihat senang. “Betapa asyiknya,
gambar-gambar ini.”
Aku bisa melihat ruangan-ruangan di
lorong yang lebih dalam lagi. Tempat tersebut ditujukan untuk konseling dan
keperluan-keperluan klinik lainnya. Suasana di lorong tersebut agak gelap,
namun sama sekali tidak menyeramkan. Mungkin karena warna dindingnya yang
warna-warni bagaikan pelangi. Carlos pun akhirnya duduk kembali, dan aku
memilih duduk di sebelah laki-laki tersebut. Aku berdecak kagum dengan hal-hal
baru yang kuketahui. “Jadi ini toh, yang
namanya tempat psikolog.”
Derit pintu terdengar terbuka
perlahan, diiringi oleh tawa teduh seseorang. Ia muncul dari kegelapan lorong
tersebut bersama seorang bocah laki-laki, kulihat mereka bergandengan tangan.
Sang bocah menyunggingkan tawa lebar dan memperlihatkan gigi ompongnya sambil
membawa beberapa lembar stiker robot-robotan. Wanita cantik yang membimbingnya
keluar mengusap rambutnya lembut, ia berjongkok menyamakan pandangan mata
keduanya. “Tio, jangan lupa lakukan apa yang Kak Rina kasih tahu ya, tadi.”
“Siap, Kak! Tio bakal berusaha!”
ujar anak tersebut sambil mengangkat stikernya bangga, kemudian
melambai-lambaikannya kepada ibundanya yang sedari tadi duduk di sebelah
mamaku. Anak yang bernama Tio tersebut berlari ke mamanya, kemudian bercerita
antusias. “Ma, Kak Rina bilang kalau Tio berhasil nggak marah sama adik Tio
lagi, Tio bakal dapat stiker lagi dan Tio bakal jadi anak baik.”
“Wah, bagus tuh.” Mama dari Tio
tersenyum sambil menghampiri Kak Rina, sang psikolog cantik berkemeja abu-abu
dengan rambut bergelombang nan indah. Keduanya berjabat tangan dan saling
memberi tepukan erat di pundak. Kak Rina memberi elusan hangat di punggung
mamanya Tio. “Semangat ya, Bunda!”
Tio dan mamanya keluar dari pintu
dorong transparan tersebut, dan anak itu sama sekali tidak berhenti mengoceh
tentang stiker. Keduanya masih asyik
bercengkrama hingga masuk mobil dan menghilang dari pandanganku. Aku tersentuh
melihat anak tersebut senang. Terkadang, aku iri juga dengan anak kecil yang
tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal nggak penting. Kak Rina mendekati Mama
dan Carlos, ia pun menunduk agar tidak lebih tinggi dari orang-orang di bangku
tunggu tersebut. “Carlos, kita masuk ruangan, yuk!”
Carlos tampak malu-malu, namun
akhirnya menuruti instruksi perempuan anggun nan lembut itu. Keduanya berjalan
perlahan sembari mencari ruangan konseling di lorong tersebut. Ah, mereka masuk
di ruangan kedua. Kak Rina tertawa, berusaha menciptakan suasana yang
menyenangkan. Ternyata, aku menjadi kagum dengan Kak Rina. Ia pasti dulu kuliah
psikologi, dan ternyata setelah bekerja pekerjaan ini keren juga. Aku jadi
memiliki sedikit keinginan ke sana, walaupun tentu saja belum jelas. Ini sudah
awal kelas dua belas, namun aku masih belum memiliki arah yang jelas tentang
masa depanku. Biarkanlah waktu yang menjawabnya pada saat yang tepat.
**
Aku mendesah pasrah melihat kertas
ujian yang kuambil. 50. Ini sangat mengganggu pagi hariku yang cerah ini,
walaupun biasanya sekolah memang tidak pernah menyenangkan. Sepertinya, aku
sudah jenuh. Nilai kimiaku jeblok lagi. Aku khawatir aku tidak bisa lulus, atau
lebih parahnya lagi, harus mengulang keseluruhan kelas dua belas ini. Duh,
amit-amit deh.
Sebetulnya, aku memang sudah
menjadi pelanggan setia nilai jeblok dan pas-pasan di sekolah ini. Aku memang
jurusan IPA, namun jangan mengharapkan otak encer ala profesor penemu mesin
waktu. Kepintaranku pas-pasan, dan aku rajin pun percuma. Menurutku, terlalu
berusaha memuaskan diri sendiri hanyalah buang-buang waktu dan menambah beban
hidup.
Saat ini, kelas cukup ribut karena
guru yang akan mengajar kami sedang ada keperluan dengan kepala sekolah. Bapak
berusia 40 itu telah membagikan kertas ujian, dan sepertinya tidak akan kembali
ke kelas setelah dipanggil kepala sekolah 20 menit yang lalu. Kini, sisa waktu
pelajaran tinggal 15 menit. Baguslah, aku memang sedang tidak ingin berurusan
dengan senyawa-senyawa yang entah dari mana asal-usulnya tersebut. Aku tahu aku
memang sudah tidak suka dengan kimia dari awal, dan aku jauh lebih menyukai
fisika dan matematika yang menurutku lebih rasional. Masih bisa dicari
asal-usulnya, dan tentu masih bisa diturun-turunkan lagi
persamaan-persamaannya. Namun intinya, nilaiku pas-pasan dan jeblok.
Sesuka-sukanya aku sama mata pelajaran di sekolah, aku tetaplah Kelly si nilai
pas-pasan yang dicuekin sekelas dan guru akibat perbuatan Papa yang menjadi
buah bibir satu sekolahan.
Kadang, aku juga menyalahkan
jabatan Papa atas ketidaknyamanan yang menimpa diriku. Sebetulnya, posisinya
sebagai menteri ekonomi membuatku dan semuanya bangga. Beliau tegas, disiplin,
dan sangat ulet. Aku kagum dengan Papa yang tidak pernah melalaikan tanggung
jawab. Namun, tidak sedikit orang yang ingin menjatuhkan pria berusia lima
puluh enam tersebut. Memang, yang namanya manusia pasti selalu ada saja yang
jahat. Ketika Papa sebetulnya berniat membantu dengan berdonasi untuk sekolah
yang sedang bermasalah finansial, ia malah terkena kasus-kasus tidak
menyenangkan lainnya. Habislah beliau menjadi bahan gosip, dan nasib yang sama
juga di alami putra-putrinya. Aku dan Carlos. Memang, beberapa tahun sudah
berlalu semenjak gosip itu. Namun, kerisihan yang kurasakan tidak pernah hilang
hingga sekarang.
Ah, semua pemikiran ini membuatku
semakin pusing. Ini jugalah yang menyebabkan aku tidak berani bercerita ke Papa
dan Mama mengenai nilai-nilaiku. Mereka sudah cukup pusing dengan masalah
mereka sendiri, dan juga masalah Carlos. Untuk kali ini, aku harus belajar
membela diriku sendiri. Saat-saat waktu bebas tanpa guru seperti ini, aku
selalu berusaha membaca dan memahami buku teks yang tersedia untuk setiap pelajarannya.
Namun, lagi-lagi aku sudah penat. Pak guru juga sudah tidak kembali lagi,
mengingat sisa pelajaran hanya 10 menit dan kemudian di lanjutkan dengan
istirahat. Biasanya, waktu istirahat juga kumanfaatkan dengan membaca buku demi
adanya suatu perubahan. Ya sudah, aku lebih baik berjalan-jalan dan menyegarkan
kepalaku dulu.
Aku menengok ke kiri dan kanan.
Kelasku berada di lantai dua gedung besar berwarna biru muda ini, dan aku bisa
melihat lantai-lantai di bawahku melalui titik kosong di tengah. Gang-gang
menuju ruangan kelas berpola konsisten. Gedung tersebut luas dan memiliki empat
arah tangga, memudahkan siswa-siswi dan guru-guru mengakses ruangan kelas.
Sejujurnya, aku belum pernah kabur dari kelas begini.
Sebuah ruangan penuh stiker menarik
perhatianku saat aku melewatinya. Aku menggenggam daun pintu dan menekannya
turun, membuatku sadar bahwa itu tidak di kunci. Pemandangan di dalam membuat
terenyuh sejenak. Sebuah ruangan dingin penuh dengan alat musik, dan saat ini
sedang kosong tanpa orang.
Tidak tahu hal apa yang
mendorongku, namun aku melangkah masuk. Lantai yang mulai dilapisi karpet
membuatku refleks melepaskan sepatu hitam. Aku duduk di sebuah bangku, dan
mendapati sebuah biola kecil terletak tak jauh dariku. Nekad dan tidak
memikirkan apa-apa, aku mengambilnya. Aku berdiri kembali, menatap sosokku yang
mengenakan seragam abu-abu dengan rok selutut. Oke, aku masih berada di sekolah
namun aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk bermain.
Just
a small town girl
Living
in a lonely world
She
took the midnight train going anywhere
Aku pun mengingat not-not lagu yang
pernah kumainkan sebelumnya. Untuk itulah aku selalu membeli buku lagu setiap
ke toko buku, walaupun Carlos lebih suka membaca komik dan mengatakan aku
‘kerajinan’. Lagu-lagu tersebut
menyenangkan untuk dipelajari dan dicoba. Anehnya, aku sangat mudah untuk
menghafalnya di luar kepala. Seolah-olah, tanganku sendiri yang merekamnya
masuk dalam memori. Tentu saja, otakku menikmati harmoni yang tercipta indah
dari gesekan-gesekan bow-ku.
Just
a city boy
Born
and raised in South Detroit
He
took the midnight train going anywhere
Sebuah suara nge-bass tiba-tiba
terdengar menggema di keseluruhan ruangan. Aku langsung menoleh kaget,
mendapati sosok tinggi di pintu. Ia celingak-celinguk dan menghampiriku dengan
baju seragam yang dikeluarkan. Laki-laki berambut cepak tersebut tersenyum dan
mengangguk padaku. “Lanjutkan saja main biolanya.”
Aku yang masih melongo belum bisa
mengembalikan akal sehatku. Tampang bodohku ini disadari oleh cowok tersebut,
membuatnya menyenggol lembut lenganku. Ia nyengir nakal, dan ia sangat manis di
balik kacamata ber-frame hitamnya
tersebut. Ia pun mengulurkan tangan besar dan hangatnya menuju ke arahku. “Gue
Gino, Gue lagi bolos kelas si guru killer.
Oh iya, lo anak IPA ya? Gue kelas dua belas juga, tapi jurusan sosial.”
Aku tersipu malu karena belum
pernah ada yang seramah ini dengan ku sebelumnya. Biasanya, yang orang lakukan
adalah mencuekin atau menatap sinis. Pilihannya hanya dua itu, tidak ada
alternatif lain seperti mengajakku berbincang ringan. Gino, menatapku dari
rambut hingga kaki, kemudian mengedipkan mata usil. “Lo lagi bolos juga, ya?”
“Mungkin bisa dikatakan seperti
itu.” Ujarku pelan sambil tersenyum tertahan. Sepertinya pipiku sudah sedikit
merona karena aku langsung merasa panas sekujur tubuh. Pesona cowok berkacamata
dengan gaya cuek itu sungguh kuat, seperti magnet. Bibirku mulai menampilkan
senyum tulus tanpa paksaan. “Namaku Kelly. Kelas dua belas, IPA.”
“Nah, Kelly.” Ujar Gino sembari
duduk di kursi keyboard tak jauh dari
tempatku berdiri. Cowok tinggi tersebut mulai sibuk memencet-mencet tombol
hingga layar menyala terang, menandakan alat musik tersebut sudah nyala dan
siap dimainkan. “Berhubung kita sedang sama-sama bolos disini, kita main bareng
yuk.”
Don’t
stop believing
Hold
on to the feeling
Streetlights
people
(Journey-
Don’t stop believing)
Rasanya luar biasa mendapati
seseorang yang memiliki kesamaan hobi denganku. Lebih parahnya lagi, ia
langsung membuatku nyaman pada pertemuan pertama. Aku menatapnya yang sedang
fokus pada tuts-tuts keyboard. Gino terlihat bahagia. Pasti ia memiliki sesuatu
di balik seragam berantakannya tersebut, dan entah mengapa aku mulai memikirkan
hal itu. Entah aku akan berbicara lagi atau tidak dengannya, namun aku tak bisa
menyangkal bahwa aku mungkin akan terus membayangkan senyumnya tersebut.
Seiring dengan bel istirahat yang berbunyi nyaring, aku pun nekad menghampiri
dan menatap kedua mata tajamnya. “Gino, aku boleh minta nomor ponselmu?”
No comments:
Post a Comment