Tuesday, March 1, 2016

Berlari dalam Harmoni- BAB II~ Entah


Ruangan tersebut berwangi harum. Kenyamanan ditambah pula dengan pendingin ruangan yang segar. Aku melihat beberapa gambar di tembok, kelihatannya di hasilkan oleh anak-anak. Ada yang menggambar binatang seperti ikan hiu, ada yang menggambar putri bergaun indah, dan ada pula yang menggambar bentuk-bentuk dengan wajahnya. Di sebelahku terdapat kursi-kursi berwarna hijau muda, sementara di sisi yang satu lagi terdapat karpet halus tempat para anak bermain dengan senang. Di depanku kini terdapat dua orang berseragam hijau, keduanya tersenyum ramah. Wanita di sebelah kiri terlihat ramah dengan rambut yang di kuncir kuda. “Selamat datang di Klinik Kupu-Kupu!”

Aku, Mama, dan Carlos mengangguk. Carlos terlihat murung namun ia untungnya masih bisa tersenyum. Saat itu, ruangan cukup ramai. Aku dan Mama duduk di barisan kursi tunggu, sementara Carlos memilih mondar-mandir mengamati semua pajangan di tembok klinik praktik psikolog tersebut. Untuk sesaat, Carlos terlihat senang. “Betapa asyiknya, gambar-gambar ini.”

Aku bisa melihat ruangan-ruangan di lorong yang lebih dalam lagi. Tempat tersebut ditujukan untuk konseling dan keperluan-keperluan klinik lainnya. Suasana di lorong tersebut agak gelap, namun sama sekali tidak menyeramkan. Mungkin karena warna dindingnya yang warna-warni bagaikan pelangi. Carlos pun akhirnya duduk kembali, dan aku memilih duduk di sebelah laki-laki tersebut. Aku berdecak kagum dengan hal-hal baru yang kuketahui.  “Jadi ini toh, yang namanya tempat psikolog.”

Derit pintu terdengar terbuka perlahan, diiringi oleh tawa teduh seseorang. Ia muncul dari kegelapan lorong tersebut bersama seorang bocah laki-laki, kulihat mereka bergandengan tangan. Sang bocah menyunggingkan tawa lebar dan memperlihatkan gigi ompongnya sambil membawa beberapa lembar stiker robot-robotan. Wanita cantik yang membimbingnya keluar mengusap rambutnya lembut, ia berjongkok menyamakan pandangan mata keduanya. “Tio, jangan lupa lakukan apa yang Kak Rina kasih tahu ya, tadi.”

“Siap, Kak! Tio bakal berusaha!” ujar anak tersebut sambil mengangkat stikernya bangga, kemudian melambai-lambaikannya kepada ibundanya yang sedari tadi duduk di sebelah mamaku. Anak yang bernama Tio tersebut berlari ke mamanya, kemudian bercerita antusias. “Ma, Kak Rina bilang kalau Tio berhasil nggak marah sama adik Tio lagi, Tio bakal dapat stiker lagi dan Tio bakal jadi anak baik.”

“Wah, bagus tuh.” Mama dari Tio tersenyum sambil menghampiri Kak Rina, sang psikolog cantik berkemeja abu-abu dengan rambut bergelombang nan indah. Keduanya berjabat tangan dan saling memberi tepukan erat di pundak. Kak Rina memberi elusan hangat di punggung mamanya Tio. “Semangat ya, Bunda!”

Tio dan mamanya keluar dari pintu dorong transparan tersebut, dan anak itu sama sekali tidak berhenti mengoceh tentang stiker.  Keduanya masih asyik bercengkrama hingga masuk mobil dan menghilang dari pandanganku. Aku tersentuh melihat anak tersebut senang. Terkadang, aku iri juga dengan anak kecil yang tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal nggak penting. Kak Rina mendekati Mama dan Carlos, ia pun menunduk agar tidak lebih tinggi dari orang-orang di bangku tunggu tersebut. “Carlos, kita masuk ruangan, yuk!”

Carlos tampak malu-malu, namun akhirnya menuruti instruksi perempuan anggun nan lembut itu. Keduanya berjalan perlahan sembari mencari ruangan konseling di lorong tersebut. Ah, mereka masuk di ruangan kedua. Kak Rina tertawa, berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan. Ternyata, aku menjadi kagum dengan Kak Rina. Ia pasti dulu kuliah psikologi, dan ternyata setelah bekerja pekerjaan ini keren juga. Aku jadi memiliki sedikit keinginan ke sana, walaupun tentu saja belum jelas. Ini sudah awal kelas dua belas, namun aku masih belum memiliki arah yang jelas tentang masa depanku. Biarkanlah waktu yang menjawabnya pada saat yang tepat.

**

Aku mendesah pasrah melihat kertas ujian yang kuambil. 50. Ini sangat mengganggu pagi hariku yang cerah ini, walaupun biasanya sekolah memang tidak pernah menyenangkan. Sepertinya, aku sudah jenuh. Nilai kimiaku jeblok lagi. Aku khawatir aku tidak bisa lulus, atau lebih parahnya lagi, harus mengulang keseluruhan kelas dua belas ini. Duh, amit-amit deh.

Sebetulnya, aku memang sudah menjadi pelanggan setia nilai jeblok dan pas-pasan di sekolah ini. Aku memang jurusan IPA, namun jangan mengharapkan otak encer ala profesor penemu mesin waktu. Kepintaranku pas-pasan, dan aku rajin pun percuma. Menurutku, terlalu berusaha memuaskan diri sendiri hanyalah buang-buang waktu dan menambah beban hidup.

Saat ini, kelas cukup ribut karena guru yang akan mengajar kami sedang ada keperluan dengan kepala sekolah. Bapak berusia 40 itu telah membagikan kertas ujian, dan sepertinya tidak akan kembali ke kelas setelah dipanggil kepala sekolah 20 menit yang lalu. Kini, sisa waktu pelajaran tinggal 15 menit. Baguslah, aku memang sedang tidak ingin berurusan dengan senyawa-senyawa yang entah dari mana asal-usulnya tersebut. Aku tahu aku memang sudah tidak suka dengan kimia dari awal, dan aku jauh lebih menyukai fisika dan matematika yang menurutku lebih rasional. Masih bisa dicari asal-usulnya, dan tentu masih bisa diturun-turunkan lagi persamaan-persamaannya. Namun intinya, nilaiku pas-pasan dan jeblok. Sesuka-sukanya aku sama mata pelajaran di sekolah, aku tetaplah Kelly si nilai pas-pasan yang dicuekin sekelas dan guru akibat perbuatan Papa yang menjadi buah bibir satu sekolahan.

Kadang, aku juga menyalahkan jabatan Papa atas ketidaknyamanan yang menimpa diriku. Sebetulnya, posisinya sebagai menteri ekonomi membuatku dan semuanya bangga. Beliau tegas, disiplin, dan sangat ulet. Aku kagum dengan Papa yang tidak pernah melalaikan tanggung jawab. Namun, tidak sedikit orang yang ingin menjatuhkan pria berusia lima puluh enam tersebut. Memang, yang namanya manusia pasti selalu ada saja yang jahat. Ketika Papa sebetulnya berniat membantu dengan berdonasi untuk sekolah yang sedang bermasalah finansial, ia malah terkena kasus-kasus tidak menyenangkan lainnya. Habislah beliau menjadi bahan gosip, dan nasib yang sama juga di alami putra-putrinya. Aku dan Carlos. Memang, beberapa tahun sudah berlalu semenjak gosip itu. Namun, kerisihan yang kurasakan tidak pernah hilang hingga sekarang.

Ah, semua pemikiran ini membuatku semakin pusing. Ini jugalah yang menyebabkan aku tidak berani bercerita ke Papa dan Mama mengenai nilai-nilaiku. Mereka sudah cukup pusing dengan masalah mereka sendiri, dan juga masalah Carlos. Untuk kali ini, aku harus belajar membela diriku sendiri. Saat-saat waktu bebas tanpa guru seperti ini, aku selalu berusaha membaca dan memahami buku teks yang tersedia untuk setiap pelajarannya. Namun, lagi-lagi aku sudah penat. Pak guru juga sudah tidak kembali lagi, mengingat sisa pelajaran hanya 10 menit dan kemudian di lanjutkan dengan istirahat. Biasanya, waktu istirahat juga kumanfaatkan dengan membaca buku demi adanya suatu perubahan. Ya sudah, aku lebih baik berjalan-jalan dan menyegarkan kepalaku dulu.

Aku menengok ke kiri dan kanan. Kelasku berada di lantai dua gedung besar berwarna biru muda ini, dan aku bisa melihat lantai-lantai di bawahku melalui titik kosong di tengah. Gang-gang menuju ruangan kelas berpola konsisten. Gedung tersebut luas dan memiliki empat arah tangga, memudahkan siswa-siswi dan guru-guru mengakses ruangan kelas. Sejujurnya, aku belum pernah kabur dari kelas begini.

Sebuah ruangan penuh stiker menarik perhatianku saat aku melewatinya. Aku menggenggam daun pintu dan menekannya turun, membuatku sadar bahwa itu tidak di kunci. Pemandangan di dalam membuat terenyuh sejenak. Sebuah ruangan dingin penuh dengan alat musik, dan saat ini sedang kosong tanpa orang.

Tidak tahu hal apa yang mendorongku, namun aku melangkah masuk. Lantai yang mulai dilapisi karpet membuatku refleks melepaskan sepatu hitam. Aku duduk di sebuah bangku, dan mendapati sebuah biola kecil terletak tak jauh dariku. Nekad dan tidak memikirkan apa-apa, aku mengambilnya. Aku berdiri kembali, menatap sosokku yang mengenakan seragam abu-abu dengan rok selutut. Oke, aku masih berada di sekolah namun aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk bermain.

Just a small town girl

Living in a lonely world

She took the midnight train going anywhere

Aku pun mengingat not-not lagu yang pernah kumainkan sebelumnya. Untuk itulah aku selalu membeli buku lagu setiap ke toko buku, walaupun Carlos lebih suka membaca komik dan mengatakan aku ‘kerajinan’.  Lagu-lagu tersebut menyenangkan untuk dipelajari dan dicoba. Anehnya, aku sangat mudah untuk menghafalnya di luar kepala. Seolah-olah, tanganku sendiri yang merekamnya masuk dalam memori. Tentu saja, otakku menikmati harmoni yang tercipta indah dari gesekan-gesekan bow-ku.

Just a city boy

Born and raised in South Detroit

He took the midnight train going anywhere

Sebuah suara nge-bass tiba-tiba terdengar menggema di keseluruhan ruangan. Aku langsung menoleh kaget, mendapati sosok tinggi di pintu. Ia celingak-celinguk dan menghampiriku dengan baju seragam yang dikeluarkan. Laki-laki berambut cepak tersebut tersenyum dan mengangguk padaku. “Lanjutkan saja main biolanya.”

Aku yang masih melongo belum bisa mengembalikan akal sehatku. Tampang bodohku ini disadari oleh cowok tersebut, membuatnya menyenggol lembut lenganku. Ia nyengir nakal, dan ia sangat manis di balik kacamata ber-frame hitamnya tersebut. Ia pun mengulurkan tangan besar dan hangatnya menuju ke arahku. “Gue Gino, Gue lagi bolos kelas si guru killer. Oh iya, lo anak IPA ya? Gue kelas dua belas juga, tapi jurusan sosial.”

Aku tersipu malu karena belum pernah ada yang seramah ini dengan ku sebelumnya. Biasanya, yang orang lakukan adalah mencuekin atau menatap sinis. Pilihannya hanya dua itu, tidak ada alternatif lain seperti mengajakku berbincang ringan. Gino, menatapku dari rambut hingga kaki, kemudian mengedipkan mata usil. “Lo lagi bolos juga, ya?”

“Mungkin bisa dikatakan seperti itu.” Ujarku pelan sambil tersenyum tertahan. Sepertinya pipiku sudah sedikit merona karena aku langsung merasa panas sekujur tubuh. Pesona cowok berkacamata dengan gaya cuek itu sungguh kuat, seperti magnet. Bibirku mulai menampilkan senyum tulus tanpa paksaan. “Namaku Kelly. Kelas dua belas, IPA.”

“Nah, Kelly.” Ujar Gino sembari duduk di kursi keyboard tak jauh dari tempatku berdiri. Cowok tinggi tersebut mulai sibuk memencet-mencet tombol hingga layar menyala terang, menandakan alat musik tersebut sudah nyala dan siap dimainkan. “Berhubung kita sedang sama-sama bolos disini, kita main bareng yuk.”

Don’t stop believing

Hold on to the feeling

Streetlights people

(Journey- Don’t stop believing)

Rasanya luar biasa mendapati seseorang yang memiliki kesamaan hobi denganku. Lebih parahnya lagi, ia langsung membuatku nyaman pada pertemuan pertama. Aku menatapnya yang sedang fokus pada tuts-tuts keyboard. Gino terlihat bahagia. Pasti ia memiliki sesuatu di balik seragam berantakannya tersebut, dan entah mengapa aku mulai memikirkan hal itu. Entah aku akan berbicara lagi atau tidak dengannya, namun aku tak bisa menyangkal bahwa aku mungkin akan terus membayangkan senyumnya tersebut. Seiring dengan bel istirahat yang berbunyi nyaring, aku pun nekad menghampiri dan menatap kedua mata tajamnya. “Gino, aku boleh minta nomor ponselmu?”

 

No comments:

Post a Comment