Tuesday, March 1, 2016

Berlari dalam Harmoni- BAB III~ Menikmati dulu

Sebuah gelas berisikan susu coklat hangat setia menemani aku dan Carlos selama berjam-jam. Kali ini, kami kembali nongkrong di ruang kosong di lantai dua. Jendela yang terbuka dan angin sepoi-sepoi yang mengaliri keseluruhan ruangan menjadi sebuah hal yang kami berdua nanti-nantikan. Aku tahu kakakku memang menyukai segala sesuatu yang simpel. Tidak perlu repot-repot membuat spageti dan kue-kue berwarna imut. Dua cangkir berisikan susu coklat yang dibeli di mini market pun sudah cukup menyenangkan.

Carlos terlihat lebih baik, walaupun sesekali masih ingin kabur. Ia memakai piyama baru dan bersih karena membuatnya merasa lebih baik. Laki-laki tersebut juga sering-sering keramas, memakai pewangi, dan melakukan hal-hal yang mampu menghilangkan, atau mengurangi, badai dalam pikirannya. Sesekali, ia mengamati ke jalanan di bawah melalui jalanan. Terkadang ia melakukannya sambil khawatir berat. “Mungkinkah pembunuh-pembunuh itu menyelinap masuk ke kamarku?”

“Tidak.” Aku tersenyum, berusaha mengurangi suramnya wajah. Tulang pipinya kini betul-betul terlihat, ia pasti sudah kehilangan banyak sekali kalori. Aku bersyukur dia belum pantang makan. Tentu saja, aku sebagai adik khawatir jika sakitnya malah merembet ke mana-mana. Piyama putihnya terasa wangi karena pelembut pakaian ku tambahkan saat di mesin cuci. Kurasa itu berefek baik dan membuat suasana Carlos menjadi lebih tenang. Aku, yang saat itu mengenakan kaos oblong berwarna hitam, menyeruput susu coklatku kembali sambil ikut melihat keluar. “Mereka tidak nyata, Kak Carlos.”

Aku tahu persis kakak yang berdiri di sebelahku itu tidak akan memercayainya. Namun, seperti yang kujanjikan pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah bosan mengingatkannya. Fokusku kembali terarah pada angin semilir yang memainkan rambutku dan Carlos. Kami seperti dua anak hilang yang berdiri di depan jendela tanpa harapan. Ruangan tersebut memang terlihat kosong, namun tidak halnya dengan kegundahan kami semua. Dinding putih susu yang seperti biasa mendominasi membuat segalanya menjadi buram. Tanganku bersender pada railing jendela melebar ke samping itu, memunculkan lebih banyak kepalaku ke luar. “Apa yang kamu pikirkan tidak benar, Los.”

Posisi kami yang berada di lantai membuat angin bermain lebih heboh dari di lantai bawah. Aku melihat ke bawah, melihat tetangga-tetangga yang beraktivitas. Seorang pria muda membawa motor sambil mengangkut galon air, sebuah truk kecil membawakan sofa mungil berwarna merah, dan ada pula seorang ibu tua yang berjalan-jalan dengan anjing berbulu empuknya. Mereka semua terlihat normal dan senang. Aku menghela napas. “Mengapa aku sering bingung ketika melihat orang lain selain kita sendiri, Los?”

“Aku juga merasa orang-orang tersebut memiliki dunia yang berbeda.” Carlos ikut mengamati lorong sempit yang sudah menjadi pemandangan rutin tiap kami keluar rumah selama tujuh tahun terakhir. Setiap harinya terlihat sama saja, tanpa adanya perbedaan yang berarti. Hal yang kusadari selama ini hanyalah perbaikan lampu yang kini semakin terang dan tiang-tiang listrik yang semakin bertambah. Carlos menunjuk pada beberapa anak yang tertawa bermain lempar bola. “Menurut kamu, anak-anak itu jarang sedih, ya?”

“Pasti enggak, Los.” Aku berujar, melihat betapa bahagianya mereka saat bermandikan keringat. Keduanya saling sahut-menyahut girang, membuat bola kecil berwarna merah itu tidak jelas arah lemparnya. Teriknya matahari siang itu tidak mengurangi semangat membara keduanya. Rambut yang sudah lepek dan basah keringat tersebut juga tidak dipedulikan sama sekali. Tanpa sadar, aku jadi memainkan jari-jemariku. “Setiap orang punya masalah masing-masing”.

Carlos mengangguk sambil tidak melepaskan pandangan dari bocah-bocah tetangga seberang itu. Jalanan tersebut tidak terlalu luas namun juga tidak sempit sehingga memungkinkan banyaknya kegiatan fisik. Terkadang, ada anak-anak perempuan yang bermain lompat tali dan lompat-lompatan sambil bernyanyi. Tak jarang juga anak-anak remaja yang asik naik sepeda sambil saling bercerita melewati gang ini. Untung saja lampu penerangan kini sudah di perbaiki dan meminimalisir bahaya yang bisa saja terjadi akibat kurang pekanya penglihatan. Bayangkan, bagaimana ceritanya jika ada yang cedera akibat ditabrak motor?

Banyak orang memanfaatkan jalanan beraspal baik untuk bersenang-senang. Anak-anak tersebut rutin bermain beberapa hari sekali, membuat aku kadang merasa iri. Mengapa aku tidak bisa sesenang mereka?

“Los, mungkin kita juga butuh bergerak seperti itu?” Aku tiba-tiba terpikir. Mataku mengerjap-ngerjap akibat sinar matahari yang tiba-tiba silau. Awan-awan yang tadinya menutupi perlahan mulai bergeser. Mereka kembali membiarkan kami merasakan teriknya panas. Aku menatap Carlos yang sepertinya mendapat pencerahan ambigu, badanku semakin berdekatan dengan sosok tingginya. “Siapa tahu kamu juga bisa merasa lebih baik?”

“Kelly, kalau aku keluar rumah aku akan dibunuh.” Carlos tetap kekeuh pada keyakinannya. Keringat yang sedari tadi belum muncul tiba-tiba saja mulai mengalir sedikit demi sedikit. Dahinya mengernyit, walaupun Carlos masih terlihat tenang. Ia membayangkan sesuatu kemudian bergidik ngeri. “Kamu mau hadir di pemakamanku secepat itu?”

“Apaan sih, Los!” Aku menonjok pelan lengannya yang mulai kekurangan lemak. Kurusnya terlihat semakin ekstrim dan mengerikan. Lama-lama, ia terlihat seperti versi lelaki dari nenek sihir cungkring dengan hidungnya yang mengerikan. Tulang-tulang Carlos terlihat makin menonjol dan memprihatinkan. Bisa-bisa orang mengira ia tidak pernah makan kenyang selama berbulan-bulan. Aku menatap dirinya khawatir. “Nggak boleh ngomong begitu, tahu. Kamu berimajinasi.”

Carlos mengangkat bahunya, tampak tidak peduli dengan apapun yang kukatakan lagi. Burung-burung berkicau di atap rumah sebelah malah ia cuekin. Padahal, hal tersebut indah dan menghibur untukku. Mereka selalu berhasil membuatku senang dengan kicauan-kicauan cerewetnya. Aku semakin gemas melihat Carlos yang merosotkan tubuhnya di dinding dan kini berjongkok di bawah jendela. Secara refleks, aku menyejajarkan pandanganku dengannya. “Kak Rina juga menyarankan kamu untuk sering bergerak kan?”

Tanpa memedulikan anggukan yang ia berikan, aku mengeluarkan ponsel jadulku ini dan mulai membuka daftar lagu. Isi musik di ponselku tersebut adalah semua yang kusukai dan sering kudengarkan. Kebanyakan berisi lagu pop, walaupun tetap terdapat segelintir lagu klasik yang terselip di antaranya. Aku men-scroll lagu dan menaikkan alis saat menemukan lagu beirama cepat. Aku berpikir sejenak mengenai emosi yang di kandung lagu tersebut. Sebuah senyuman kecil tersungging saat aku berhasil menyadari lagu tersebut berpesan positif dan semangat. Tangan kecilku menarik lengan kurus Carlos untuk berdiri dan mulai menyalakan lagu milik Adera, seorang musisi yang kukagumi.

Saat ku tenggelam dalam sendu

Waktu pun enggan untuk berlalu

Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku

Entah untuk siapapun itu

Mata Carlos terlihat geli melihatku yang kini mulai menari-nari nggak jelas. Entah itu aerobik atau modern dance, aku tidak peduli lagi. Kepala yang mendongak dan menunduk, naik dan turun. Tanganku sesekali terbentang ke atas dan ke bawah, dan juga ke kiri dan kanan tanpa konsistensi yang jelas. Jujur saja, kegiatan random seperti ini membuatku senang. Sepertinya, hal ini juga akan berpengaruh untuk Carlos. Aku menyenggol pundaknya sambil terus melompat-lompat nggak jelas. “Baiklah kalau kamu nggak mau ke depan, tapi kamu harus mau gerak-gerak sama aku sekarang.”

Semakin ku lihat masa lalu

Semakin hati tak menentu

Tetapi satu sinar terangi jiwaku

Saat kumelihat senyummu

Gigiku bermunculan dari senyum setelah Carlos mulai ikut memperlihatkan gerakan tarian robotnya. Baguslah, ia sudah mau mendengarkanku untuk hal ini. Ia melonjak-lonjak ke kanan dan ke kiri, laki-laki yang tadinya berpostur kekar tersebut sesekali berputar sembari melompat. Carlos melompat dan menginjak sekencang-kencangnya. Ia melampiaskan perasaan-perasaan buruk yang terus-menerus nemplok.

Dan kau hadir mengubah segalanya

Menjadi lebih indah

Kaubawa cintaku setinggi angkasa

Membuatku merasa sempurna

(Adera- Lebih Indah)

Kini, kami berdua seperti dua kambing liar yang lepas di kebun orang. Loncat sana, loncat sini, jinjit sana, tonjok udara ke kanan dan ke kiri. Menyenangkan sekali rasanya bisa menggila tanpa dikomentari orang-orang sok tahu. Aku benci dengan orang-orang yang gemar sekali membicarakan urusan orang lain yang nggak ada hubungannya dengan mereka. Semua fitnah menyebalkan, termasuk mengenai masalah Papa, membuatku muak dengan yang namanya manusia. Ah, senang sekali rasanya menjadi diri sendiri pada tempat-tempat sepi yang menyenangkan. Inilah aku dan duniaku.

**

Malam itu, aku sudah mandi dan berganti piyama. Carlos sudah kuantar ke kamarnya tadi dan ia pun berjanji akan segera tidur setelah ia merasa mengantuk. Setelah lelah berteriak dan melompat, sepertinya kemungkinan untuk tetap segar bugar semalaman cukup kecil. Aku pun sudah mulai menguap dan masih mengeringkan rambutku yang basah. Betul sekali, mencuci rambut dapat memberikan perasaan segar dan bersih yang sangat menyenangkan. Aku tengah menyisir rambut hitam sebahuku ketika ponselku bergetar pelan. Tanpa basa-basi, aku langsung meraih dan tersenyum melihat nama pengirim pesan itu. Gino.

From: Gino

Halo Kel. Lagi main biola?

Aku tertawa kecil, kemudian merebahkan diriku di atas ranjang yang didominasi warna merah muda tersebut. Tanganku gencar sekali mengetik untuk membalas pesan singkatnya, sampai banyak salah ketik segala. Merepotkan sekali ketika jariku kembali harus menghapus dan mengetik ulang, apalagi ketika layar proses ponselku cukup lamban. Cukup menguji kesabaran, namun tidak apa-apa karena kali ini Gino yang menghubungi.

To: Gino

Nggak, nih. Kemarin udah puas main di sekolah pas ketemu kamu.

Bayanganku sudah kemana-mana setelah pesan tersebut terkirim. Aku membayangkan Gino yang memakai jas hitam dengan pita merah, aku membayangkan kacamatanya yang dilepas, dan aku membayangkan sosoknya yang tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

Astaga, berhentilah berpikir yang tidak-tidak.

Aku selalu  mengingat pesan Mama untuk nggak mengharapkan yang aneh-aneh. Mencegah sakit hati lebih baik dari pada mengobati, begitulah pendapatnya. Mungkin benar juga, namun kali ini aku betul-betul tidak bisa mengontrol diri. Kacamata ber-frame hitam terus -muncul pada saat-saat aneh. Misal, saat aku sedang di kamar mandi dan mengguyur rambutku itu.

From: Gino

Oh, gitu. Hehe. Lo udah belajar buat ulangan hari Senin? Masih tiga hari lagi sih, tapi siapa tahu lo rajin belajar dari hari Jumat begini. J

Alisku naik geli saat aku membaca pesan tersebut. Diriku yang berotak lemot ini sudah pasrah dan sedikit tidak peduli dengan yang namanya ulangan. Seberapapun aku berusaha, nilaiku ya begitu-begitu saja. Tanpa kemajuan yang baik. Kalaupun ada perubahan, hal yang terjadi adalah penurunan nilai yang ekstrim. Mereka barangkali ingin terjun bebas dan mempermainkanku.

To: Gino

Belum, Gin. Lagipula aku sudah lumayan nyerah, aku nggak jago belajar dan nilaiku jelek mulu.

Aku mendesah mengingat guru-guru dan teman-teman menyebalkan. Sebetulnya, ini salahku sendiri yang nggak berani meminta bantuan. Mentalku memang payah dan gampang ciut, tidak berbeda jauh dari keong yang akan langsung bersembunyi dalam cangkangnya. Sejauh ini, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Terkadang, aku memang sudah kesal dan gemas dengan diriku. Tapi memikirkan ledekan dan omelan yang bisa jadi terjadi, aku lebih memilih untuk cari aman. Lagi-lagi, Gino memecahkan lamunanku dengan pesan singkatnya.

From: Gino

Gue juga nggak terlalu bisa belajar. Gimana kalau kita coba belajar bareng dan siapa tahu saling membantu?

Tanpa direncanakan, aku jadi membantingkan sosok dudukku di ranjang malang yang bagaikan trampolin pelampiasan. Aku tidak berpikir panjang saat aku mengetik ‘tentu saja’ dan langsung mengirimkannya. Sepertinya, hari-hariku akan sedikit membaik. Aku merasa senang mengetahui ada yang kunantikan di sekolah yang selalu kupersepsikan sebagai menjemukkan. Ternyata, perubahan dapat terjadi pada saat-saat yang tidak terduga. Walaupun aku belum mengetahui baik atau buruknya hal ini, setidaknya aku bisa menikmatinya terlebih dahulu.

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment