Sebuah gelas berisikan susu coklat
hangat setia menemani aku dan Carlos selama berjam-jam. Kali ini, kami kembali
nongkrong di ruang kosong di lantai dua. Jendela yang terbuka dan angin
sepoi-sepoi yang mengaliri keseluruhan ruangan menjadi sebuah hal yang kami
berdua nanti-nantikan. Aku tahu kakakku memang menyukai segala sesuatu yang
simpel. Tidak perlu repot-repot membuat spageti dan kue-kue berwarna imut. Dua
cangkir berisikan susu coklat yang dibeli di mini market pun sudah cukup
menyenangkan.
Carlos terlihat lebih baik,
walaupun sesekali masih ingin kabur. Ia memakai piyama baru dan bersih karena
membuatnya merasa lebih baik. Laki-laki tersebut juga sering-sering keramas,
memakai pewangi, dan melakukan hal-hal yang mampu menghilangkan, atau mengurangi,
badai dalam pikirannya. Sesekali, ia mengamati ke jalanan di bawah melalui
jalanan. Terkadang ia melakukannya sambil khawatir berat. “Mungkinkah
pembunuh-pembunuh itu menyelinap masuk ke kamarku?”
“Tidak.” Aku tersenyum, berusaha
mengurangi suramnya wajah. Tulang pipinya kini betul-betul terlihat, ia pasti
sudah kehilangan banyak sekali kalori. Aku bersyukur dia belum pantang makan.
Tentu saja, aku sebagai adik khawatir jika sakitnya malah merembet ke
mana-mana. Piyama putihnya terasa wangi karena pelembut pakaian ku tambahkan
saat di mesin cuci. Kurasa itu berefek baik dan membuat suasana Carlos menjadi
lebih tenang. Aku, yang saat itu mengenakan kaos oblong berwarna hitam,
menyeruput susu coklatku kembali sambil ikut melihat keluar. “Mereka tidak
nyata, Kak Carlos.”
Aku tahu persis kakak yang berdiri
di sebelahku itu tidak akan memercayainya. Namun, seperti yang kujanjikan pada
diriku sendiri, aku tidak akan pernah bosan mengingatkannya. Fokusku kembali
terarah pada angin semilir yang memainkan rambutku dan Carlos. Kami seperti dua
anak hilang yang berdiri di depan jendela tanpa harapan. Ruangan tersebut
memang terlihat kosong, namun tidak halnya dengan kegundahan kami semua.
Dinding putih susu yang seperti biasa mendominasi membuat segalanya menjadi
buram. Tanganku bersender pada railing
jendela melebar ke samping itu, memunculkan lebih banyak kepalaku ke luar. “Apa
yang kamu pikirkan tidak benar, Los.”
Posisi kami yang berada di lantai
membuat angin bermain lebih heboh dari di lantai bawah. Aku melihat ke bawah,
melihat tetangga-tetangga yang beraktivitas. Seorang pria muda membawa motor
sambil mengangkut galon air, sebuah truk kecil membawakan sofa mungil berwarna
merah, dan ada pula seorang ibu tua yang berjalan-jalan dengan anjing berbulu
empuknya. Mereka semua terlihat normal dan senang. Aku menghela napas. “Mengapa
aku sering bingung ketika melihat orang lain selain kita sendiri, Los?”
“Aku juga merasa orang-orang
tersebut memiliki dunia yang berbeda.” Carlos ikut mengamati lorong sempit yang
sudah menjadi pemandangan rutin tiap kami keluar rumah selama tujuh tahun
terakhir. Setiap harinya terlihat sama saja, tanpa adanya perbedaan yang
berarti. Hal yang kusadari selama ini hanyalah perbaikan lampu yang kini
semakin terang dan tiang-tiang listrik yang semakin bertambah. Carlos menunjuk
pada beberapa anak yang tertawa bermain lempar bola. “Menurut kamu, anak-anak
itu jarang sedih, ya?”
“Pasti enggak, Los.” Aku berujar,
melihat betapa bahagianya mereka saat bermandikan keringat. Keduanya saling sahut-menyahut
girang, membuat bola kecil berwarna merah itu tidak jelas arah lemparnya. Teriknya
matahari siang itu tidak mengurangi semangat membara keduanya. Rambut yang
sudah lepek dan basah keringat tersebut juga tidak dipedulikan sama sekali. Tanpa
sadar, aku jadi memainkan jari-jemariku. “Setiap orang punya masalah
masing-masing”.
Carlos mengangguk sambil tidak
melepaskan pandangan dari bocah-bocah tetangga seberang itu. Jalanan tersebut
tidak terlalu luas namun juga tidak sempit sehingga memungkinkan banyaknya
kegiatan fisik. Terkadang, ada anak-anak perempuan yang bermain lompat tali dan
lompat-lompatan sambil bernyanyi. Tak jarang juga anak-anak remaja yang asik
naik sepeda sambil saling bercerita melewati gang ini. Untung saja lampu
penerangan kini sudah di perbaiki dan meminimalisir bahaya yang bisa saja
terjadi akibat kurang pekanya penglihatan. Bayangkan, bagaimana ceritanya jika
ada yang cedera akibat ditabrak motor?
Banyak orang memanfaatkan jalanan
beraspal baik untuk bersenang-senang. Anak-anak tersebut rutin bermain beberapa
hari sekali, membuat aku kadang merasa iri. Mengapa aku tidak bisa sesenang
mereka?
“Los, mungkin kita juga butuh
bergerak seperti itu?” Aku tiba-tiba terpikir. Mataku mengerjap-ngerjap akibat
sinar matahari yang tiba-tiba silau. Awan-awan yang tadinya menutupi perlahan
mulai bergeser. Mereka kembali membiarkan kami merasakan teriknya panas. Aku
menatap Carlos yang sepertinya mendapat pencerahan ambigu, badanku semakin
berdekatan dengan sosok tingginya. “Siapa tahu kamu juga bisa merasa lebih
baik?”
“Kelly, kalau aku keluar rumah aku
akan dibunuh.” Carlos tetap kekeuh pada keyakinannya. Keringat yang sedari tadi
belum muncul tiba-tiba saja mulai mengalir sedikit demi sedikit. Dahinya
mengernyit, walaupun Carlos masih terlihat tenang. Ia membayangkan sesuatu
kemudian bergidik ngeri. “Kamu mau hadir di pemakamanku secepat itu?”
“Apaan sih, Los!” Aku menonjok
pelan lengannya yang mulai kekurangan lemak. Kurusnya terlihat semakin ekstrim
dan mengerikan. Lama-lama, ia terlihat seperti versi lelaki dari nenek sihir
cungkring dengan hidungnya yang mengerikan. Tulang-tulang Carlos terlihat makin
menonjol dan memprihatinkan. Bisa-bisa orang mengira ia tidak pernah makan
kenyang selama berbulan-bulan. Aku menatap dirinya khawatir. “Nggak boleh
ngomong begitu, tahu. Kamu berimajinasi.”
Carlos mengangkat bahunya, tampak
tidak peduli dengan apapun yang kukatakan lagi. Burung-burung berkicau di atap
rumah sebelah malah ia cuekin. Padahal, hal tersebut indah dan menghibur
untukku. Mereka selalu berhasil membuatku senang dengan kicauan-kicauan
cerewetnya. Aku semakin gemas melihat Carlos yang merosotkan tubuhnya di
dinding dan kini berjongkok di bawah jendela. Secara refleks, aku menyejajarkan
pandanganku dengannya. “Kak Rina juga menyarankan kamu untuk sering bergerak
kan?”
Tanpa memedulikan anggukan yang ia
berikan, aku mengeluarkan ponsel jadulku ini dan mulai membuka daftar lagu. Isi
musik di ponselku tersebut adalah semua yang kusukai dan sering kudengarkan.
Kebanyakan berisi lagu pop, walaupun tetap terdapat segelintir lagu klasik yang
terselip di antaranya. Aku men-scroll
lagu dan menaikkan alis saat menemukan lagu beirama cepat. Aku berpikir sejenak
mengenai emosi yang di kandung lagu tersebut. Sebuah senyuman kecil tersungging
saat aku berhasil menyadari lagu tersebut berpesan positif dan semangat. Tangan
kecilku menarik lengan kurus Carlos untuk berdiri dan mulai menyalakan lagu
milik Adera, seorang musisi yang kukagumi.
Saat
ku tenggelam dalam sendu
Waktu
pun enggan untuk berlalu
Ku
berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah
untuk siapapun itu
Mata Carlos terlihat geli melihatku
yang kini mulai menari-nari nggak jelas. Entah itu aerobik atau modern dance, aku tidak peduli lagi. Kepala
yang mendongak dan menunduk, naik dan turun. Tanganku sesekali terbentang ke
atas dan ke bawah, dan juga ke kiri dan kanan tanpa konsistensi yang jelas.
Jujur saja, kegiatan random seperti
ini membuatku senang. Sepertinya, hal ini juga akan berpengaruh untuk Carlos.
Aku menyenggol pundaknya sambil terus melompat-lompat nggak jelas. “Baiklah
kalau kamu nggak mau ke depan, tapi kamu harus mau gerak-gerak sama aku
sekarang.”
Semakin ku lihat masa lalu
Semakin hati tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat kumelihat senyummu
Gigiku bermunculan dari senyum setelah
Carlos mulai ikut memperlihatkan gerakan tarian robotnya. Baguslah, ia sudah
mau mendengarkanku untuk hal ini. Ia melonjak-lonjak ke kanan dan ke kiri,
laki-laki yang tadinya berpostur kekar tersebut sesekali berputar sembari
melompat. Carlos melompat dan menginjak sekencang-kencangnya. Ia melampiaskan
perasaan-perasaan buruk yang terus-menerus nemplok.
Dan kau hadir mengubah segalanya
Menjadi
lebih indah
Kaubawa
cintaku setinggi angkasa
Membuatku
merasa sempurna
(Adera-
Lebih Indah)
Kini, kami berdua seperti dua
kambing liar yang lepas di kebun orang. Loncat sana, loncat sini, jinjit sana,
tonjok udara ke kanan dan ke kiri. Menyenangkan sekali rasanya bisa menggila
tanpa dikomentari orang-orang sok tahu. Aku benci dengan orang-orang yang gemar
sekali membicarakan urusan orang lain yang nggak ada hubungannya dengan mereka.
Semua fitnah menyebalkan, termasuk mengenai masalah Papa, membuatku muak dengan
yang namanya manusia. Ah, senang sekali rasanya menjadi diri sendiri pada
tempat-tempat sepi yang menyenangkan. Inilah aku dan duniaku.
**
Malam itu, aku sudah mandi dan
berganti piyama. Carlos sudah kuantar ke kamarnya tadi dan ia pun berjanji akan
segera tidur setelah ia merasa mengantuk. Setelah lelah berteriak dan melompat,
sepertinya kemungkinan untuk tetap segar bugar semalaman cukup kecil. Aku pun
sudah mulai menguap dan masih mengeringkan rambutku yang basah. Betul sekali,
mencuci rambut dapat memberikan perasaan segar dan bersih yang sangat
menyenangkan. Aku tengah menyisir rambut hitam sebahuku ketika ponselku
bergetar pelan. Tanpa basa-basi, aku langsung meraih dan tersenyum melihat nama
pengirim pesan itu. Gino.
From: Gino
Halo Kel. Lagi main biola?
Aku tertawa kecil, kemudian
merebahkan diriku di atas ranjang yang didominasi warna merah muda tersebut.
Tanganku gencar sekali mengetik untuk membalas pesan singkatnya, sampai banyak
salah ketik segala. Merepotkan sekali ketika jariku kembali harus menghapus dan
mengetik ulang, apalagi ketika layar proses ponselku cukup lamban. Cukup
menguji kesabaran, namun tidak apa-apa karena kali ini Gino yang menghubungi.
To: Gino
Nggak, nih. Kemarin udah puas main di sekolah pas ketemu kamu.
Bayanganku sudah kemana-mana
setelah pesan tersebut terkirim. Aku membayangkan Gino yang memakai jas hitam
dengan pita merah, aku membayangkan kacamatanya yang dilepas, dan aku
membayangkan sosoknya yang tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.
Astaga, berhentilah berpikir yang
tidak-tidak.
Aku selalu mengingat pesan Mama untuk nggak mengharapkan
yang aneh-aneh. Mencegah sakit hati lebih baik dari pada mengobati, begitulah
pendapatnya. Mungkin benar juga, namun kali ini aku betul-betul tidak bisa
mengontrol diri. Kacamata ber-frame hitam terus -muncul pada saat-saat aneh.
Misal, saat aku sedang di kamar mandi dan mengguyur rambutku itu.
From: Gino
Oh, gitu. Hehe. Lo udah belajar buat ulangan hari Senin? Masih tiga
hari lagi sih, tapi siapa tahu lo rajin belajar dari hari Jumat begini. J
Alisku naik geli saat aku membaca
pesan tersebut. Diriku yang berotak lemot ini sudah pasrah dan sedikit tidak
peduli dengan yang namanya ulangan. Seberapapun aku berusaha, nilaiku ya
begitu-begitu saja. Tanpa kemajuan yang baik. Kalaupun ada perubahan, hal yang
terjadi adalah penurunan nilai yang ekstrim. Mereka barangkali ingin terjun
bebas dan mempermainkanku.
To: Gino
Belum, Gin. Lagipula aku sudah lumayan nyerah, aku nggak jago belajar
dan nilaiku jelek mulu.
Aku mendesah mengingat guru-guru
dan teman-teman menyebalkan. Sebetulnya, ini salahku sendiri yang nggak berani
meminta bantuan. Mentalku memang payah dan gampang ciut, tidak berbeda jauh
dari keong yang akan langsung bersembunyi dalam cangkangnya. Sejauh ini, aku
tidak tahu apa yang harus dilakukan. Terkadang, aku memang sudah kesal dan
gemas dengan diriku. Tapi memikirkan ledekan dan omelan yang bisa jadi terjadi,
aku lebih memilih untuk cari aman. Lagi-lagi, Gino memecahkan lamunanku dengan
pesan singkatnya.
From: Gino
Gue juga nggak terlalu bisa belajar. Gimana kalau kita coba belajar
bareng dan siapa tahu saling membantu?
Tanpa direncanakan, aku jadi
membantingkan sosok dudukku di ranjang malang yang bagaikan trampolin
pelampiasan. Aku tidak berpikir panjang saat aku mengetik ‘tentu saja’ dan
langsung mengirimkannya. Sepertinya, hari-hariku akan sedikit membaik. Aku
merasa senang mengetahui ada yang kunantikan di sekolah yang selalu
kupersepsikan sebagai menjemukkan. Ternyata, perubahan dapat terjadi pada
saat-saat yang tidak terduga. Walaupun aku belum mengetahui baik atau buruknya
hal ini, setidaknya aku bisa menikmatinya terlebih dahulu.
No comments:
Post a Comment