Hari itu cuaca cukup cerah,
matahari bersinar terik seperti biasanya. Burung-burung tetap berkicau dan
menyanyikan senandung-senandung bahagia. Anjing-anjing di depan rumah tetap
menggonggong dan meminta belaian kepada majikannya seperti biasa. Sayangnya,
semua hal-hal kecil yang sempurna tersebut belum dapat mengubah keadaan Carlos.
“Carlos?” ujarku memanggilnya yang
lagi-lagi termenung, duduk di ranjang dengan pandangan kosong. Sungguh, aku
khawatir padanya. “Kakak mau makan apa?”
Carlos menatapku dengan pandangan
ambigu, entah ia sedang memikirkan apa.
Wajahnya semakin hari menjadi semakin pucat, tubuhnya pun menjadi
semakin kurus. Aku menduga ia kurang tidur karena kantung mata yang semakin
bengkak dan menghitam. Carlos menoleh kea rah luar, mengernyitkan dahi
lapangnya. “Mereka masih belum mau pergi.”
Aku memutuskan duduk di samping
Carlos, yang tampak kusut dengan piyama berwarna merahnya. Saat ini jam
sebelas, namun Carlos membingungkanku karena belum mandi dan belum sarapan. Ia
hanya menatap keluar jendela dengan kegelisahan yang susah kuceritakan.
Laki-laki tersebut mengusap kedua pipinya, berharap hal tersebut menjadikannya
merasa lebih baik. “Orang-orang itu masih bilang mereka akan membunuhku kalau
aku keluar rumah, Kelly.”
Ranjangnya pun terlihat berantakan,
dengan selimut yang sudah tidak jelas lipatannya. Sepertinya, kasur tersebut
sempat menjadi pelampiasan amukan Carlos. Aku semakin sedih melihat Carlos yang
tak menentu namun tetap harus pergi kuliah, nanti sore. Kamarnya yang bernuansa pop dengan warna-warna
ngejrengnya menjadi tidak cocok sama sekali dengan keadaan calon sarjana teknik
sipil tersebut sekarang. Boneka beruang yang tadinya terduduk tegap di meja
sebelah menjadi rusak akibat digepeng-gepengkan. Kini, Carlos menatapku yang
sedari tadi memang tidak tahu harus merespon apa. “Kelly, kalau aku dibunuh
mereka, aku bakal dikubur dimana?”
Percakapan ini menjadi semakin
parah. Aku pun mengeluarkan roti instan yang memang sedari tadi aku bawa dalam
sebuah kantong plastik putih, menaruhnya di atas ranjang bernuansa biru tua
kakakku tersebut. Tak lupa, aku
mengeluarkan botol air mineral dari kantong kain yang kubawa di tangan satu
lagi. Sosokku duduk mendekati Carlos yang semakin panik melihat ke luar
jendela. “Carlos, kamu terlalu banyak berpikir. Ayo makan dulu, orang-orang
yang kau bicarakan itu tidak ada.”
“Kelly, jelas-jelas mereka bilang
mereka lagi bawa pistol! Orang-orang itu sudah sangat siap untuk membunuhku!”
Carlos mulai berteriak sengit sambil melingkupi kepalanya dengan kedua lengan
kekarnya. Matanya tampak berkaca-kaca, ia sudah lelah dengan semua ini.
Laki-laki tersebut tiba-tiba memasukkan dirinya dalam selimut, menjadikannya
seperti lapisan kebab. “Alasan mereka nggak bunuh aku hanya karena kasihan pada
Mama dan Papa!”
“Itu nggak benar.” Aku mengelus
buntalan dalam selimut tersebut, walau tidak yakin apa yang aku lakukan ini
benar. Carlos bergetar hebat, aku bisa mendengar jelas napasnya yang memburu.
Badannya bergoyang-goyang naik dan turun tanpa irama yang jelas. Aku
menempelkan sosokku pada selimut tersebut, diriku sangat ingin membuatnya
merasa lebih baik. “Kamu lagi berhalusinasi, Carlos. Aku akan terus
mengingatkankanmu, dan aku akan terus mendengarkanmu.”
“Kelly.” Carlos tiba-tiba
memunculkan wajahnya dari balik selimut. Wajahnya merah dan penuh kerutan. Aku
pun baru menyadari ia yang tambah kurus ekstrim dari tulang pipi yang semakin
menonjol. Keadaan kakakku tersebut memprihatinkan, namun aku masih belum yakin
tentang apa yang kulakukan. “Menurutmu, aku gila kalau aku nggak percaya
sedikitpun padamu?”
“Nggak Carlos, kamu hanya butuh
waktu untuk membuat dirimu sendiri senang.” Ujarku sambil mengusap punggungnya
yang masih bersembunyi di balik selimut. Sosok yang dulu lebih besar dariku
tersebut terlihat sangat lemas. Siapapun pasti akan sedih kalau diberitahu
keadaan before dan after Carlos. “Kamu hanya sakit hati,
dan pasti butuh waktu untuk membantumu mengampuni.”
“Aku bahkan udah nggak bisa mengampuni diriku sendiri, Kel.”
Carlos berujar sambil kembali memasukkan kepalanya ke bawah selimut. Mungkin
saja, ia berharap ia tidak perlu keluar lagi dari persembunyiannya selamanya.
Seandainya saja bisa. Carlos mendesah berat, meluapkan sedikit dari rasa
frustasinya. “Kel, aku udah bikin Papa dan Mama nangis melulu kan?”
Papa dan Mama memang sedih akibat
keadaan Carlos yang semakin mengkhawatirkan. Di saat yang sama, mereka tidak
punya pilihan lain selain mendorongnya tetap kuliah ke kampus. Aku tahu mereka
stres. Tapi, aku tahu juga mereka merasakannya karena sayang sama Carlos. Orang
tuaku mengasihi Carlos Hutama, putra pertama mereka. Tak jarang, aku melihat
Mama dan Papa menitikkan air mata setelah berhadapan dengan Carlos. Kini, aku
memeluk buntalan tubuh Carlos tersebut, berusaha menambah kehangatan selimut
yang mungkin selalu kurang. “Jangan mikir yang aneh-aneh, Carlos. Mereka sayang
sama kamu.”
Melihat kondisi kakakku, aku
terenyuh dan sesuatu menguatkanku untuk mulai melangkah ke kamar sebelah. Aku
memaksakan diri untuk langkah pertama dan kemudian kaki berjalan begitu saja.
Menuju ruangan kosong di lantai dua rumahku, mengambil sebuah alat musik yang
entah kenapa membuatku merasa kuat. Aku kembali menuju Carlos dengan membawa
task eras besar berwarna biru tua. Tanpa banyak berkata-kata, aku mengeluarkan
biola 4/4 dan bow yang sudah tua
milikku.
Carlos mendengar suara tersebut dan
menaruh selimut tebalnya sedikit demi sedikit. Kakakku, yang memang tidak
pernah aku panggil ‘kak’, muncul dan melongokkan kepala. Mata kosongnya kini
terlihat lebih bernyawa dari sebelumnya. Ia terlihat lebih ‘manusia’. Aku
tersenyum dan kembali memetik-metik senar dengan jariku. Aku mengecek semuanya,
senar E, senar A, senar D, dan senar G. Oke, semuanya cukup baik dan tidak
fales. Sangat memungkinkanku untuk memainkan sebuah lagu dengan lancar.
I
can hold my breathe
I
can bite my tongue
I
can stay awake for days
If
that’s what you want
Tanganku mengayunkan nada-nada
tersebut. Lenganku bergerak dengan kekuatan besar dan kecil, aku sungguh
terbawa masuk dalam suasana seperti ini. Mendadak, aku lupa waktu dan tempat.
Aku tidak memikirkan aku sedang berada di mana, sedang sama siapa, dan apa yang
tengah kuhadapi. Aneh, aku menganggap sebuah harmoni bagaikan sihir yang luar
biasa indah.
I
can fake a smile
I
can force a laugh
I
can dance and play the part
If
that’s what you ask
Be
your number one
Ya, mendadak waktu terasa berhenti.
Atau, waktu terasa melompat pergi dan kita sedang berada dalam kehidupan berbeda.
Kemudian, perasaan senang yang aneh muncul berdesir-desir dalam hatiku. Aku
menikmati segalanya. Jari-jari lentikku sangat menikmati sensasinya, pikiranku
yang mudah sekali kacau selalu menantikan momen-momen seperti ini. Lenganku rileks, seolah amarah dapat
dilampiaskan dengan begitu. Cukup begitu saja.
I
can do it.
Suara lembut Carlos tiba-tiba
terdengar, mengikuti nada gesekan senar yang kumainkan. Ia memang masih
bersembunyi di bawah selimut, namun aku tahu ia sudah tidak setakut tadi.
Badannya tampak lebih tenang dan sudah tidak bergetar hebat, Carlos sudah lebih
tahu cara mengatur napasnya. Lagi-lagi, ia keluar sedikit demi sedikit dari
selimut bermotif pahlawan super itu. Walaupun masih kaku, ia mulai
menyunggingkan sebuah senyum kecil.
But
I’m only human
And
I bleed when I fall down
(Christina Perri- Human)
Tanpa perlu di atur-atur seperti
guru yang mengarahkan kelas anak-anak ribut, kami berdua menikmati lagu pop
yang berpesan kuat itu. Apalagi, diiringi dengan biola yang sudah menemaniku
sejak kegiatan ekstrakulikuler di SMP. Hatiku sudah jatuh kepada benda
tersebut. Aku tersenyum melihat Carlos yang sudah bisa mengendalikan dirinya.
Ia pun berdiri dan membereskan tas dan buku-buku tebalnya. Ia mengelus
kepalanya yang malang dan berjongkok meraih kertas-kertas di bawah meja. “Aku
tetap harus kuliah walaupun ada pembunuh-pembunuh itu.”
Aku menemani Carlos turun ke lantai
bawah, mendapati Mama yang sedang melihat-lihat brosur. Secara mencurigakan, ia
langsung menutup selebaran-selebaran tersebut. Wanita berambut pendek yang
masih anggun di usia kepala lima itu tersenyum khawatir melihat kami. Carlos
sudah berganti baju dengan kaos berkeras berwarna abu-abu muda, sementara aku
yang memang tidak masuk sekolah memakai kaos oblong seperti biasanya aku di
rumah. Guru-guru sedang rapat evaluasi sehingga meniadakan kegiatan
belajar-mengajar. Tak heran, banyak sorakan yang terdengar dari pelajar-pelajar
yang sudah penat bersekolah. Carlos menoleh pada Mama yang sedikit tersenyum
padanya, ia mendekati ibunya tersebut dan mengangguk. “Aku pergi kuliah dulu,
Ma.”
“Hati-hati, Carlos.” Mama tersenyum
perih setelah Carlos membalikkan punggungnya dan meraih motor sporty andalannya tiap hari. Motor
memang lebih efisien menghadang macet yang nggak pernah bosan hadir tiap
harinya. Apalagi, saat ini sudah siang dan pastinya makin macet. Aku
melambaikan tanganku pada kakakku tersebut yang sudah tidak segontai tadi.
Carlos pergi, meninggalkan aku dan Mama yang saling lihat-lihatan. “Kel,” Mama
mulai berujar khawatir. “Carlos bagaimana keadaannya?”
“Ia masih menganggap ada
orang-orang yang selalu membuntuti dan mau membunuhnya, Ma.” Aku berkata lirih,
tidak ingin menambah perasaan buruk Mama dan Papa. Mereka berdua yang biasanya
tenang dalam menghadapi masalah kini bagaikan anak ayam kehilangan induk. Blank, sama sekali tidak tahu apa yang
harus dilakukan. “Namun tadi kami bermain musik dan kelihatannya ia lebih
tenang.”
“Kau tahu, Kel.” Mama berkata sambil
membuka kembali brosur-brosur yang sudah bejibun banyaknya. Tulisannya
besar-besar, dan semuanya berisikan kantor-kantor psikolog. Kertas-kertas
berwarna-warni itu sudah tidak disusun secara beraturan. “Mama dan Papa udah
nyari ke banyak sumber untuk memperbaiki hal ini.”
Aku mengangguk mengerti, duduk
bersebelahan dengan Mama di meja makan tersebut dan mulai membolak-balik
kertas-kertas selebaran itu. Psikolog, psikiater, dan ada brosur dukun
penyembuhan pula. Semuanya tidak memiliki banyak gambar. Salah satu brosur
berwarna hijau menarik perhatianku. Kemungkinan karena cara penyampaian pesan
dan gambar-gambar yang eye-catching.
Lagipula, sepertinya aku pernah mendengar tentang Klinik Kupu-Kupu yang
dipromosikan kertas tersebut. Aku mendengar dari banyak orang kalau beberapa
psikolog yang berpraktek disitu sangat oke dan profesional. “Ma, bagaimana
kalau kita coba ajak Carlos berkonsultasi di klinik kupu-kupu? Disitu ada
psikolog bernama Rina yang udah sering sekali masuk majalah, sepertinya boleh
dicoba.”
Mama tertegun untuk sejenak. Kedua
mata yang tak pernah loyo tersebut
terlihat berpikir keras, ia menaruh kedua tangannya untuk menopang dagu. Saat
itu, ia terlihat energik dengan baju berlengan pendek trendi berwarna ungu.
Satu hal yang pasti, kita nggak bisa mengasumsi keadaan orang tersebut dari
tampak luar karena banyak orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Mama tiba-tiba tersentak dan mengambil ponsel
dari tas kecil berwarna silvernya. Tanpa perlu waktu lama, ia sudah sibuk
mengetik-ngetik. Mama mengangguk mantap melihatku, ia menyambungkan panggilan
telepon dan menunggu seseorang di ujung lainnya menjawab teleponnya. “Ya, kita
harus mencobanya.”
Aku menunduk, cemas dengan dengan
benar-atau-tidaknya tindakan ini. Namun, kita tidak akan tahu jika kita tidak
mencoba. Resiko tidak besar, jadi mungkin saja jalan tersebut memang harus
di ambil. Carlos butuh pertolongan, dan
kami harus memberikannya hal tersebut.
Semoga semua jalan keluar segera
ditunjukkan pada keluarga kami.
No comments:
Post a Comment