Tuesday, March 1, 2016

Berlari dalam Harmoni- BAB I~ Harus mencobanya


Hari itu cuaca cukup cerah, matahari bersinar terik seperti biasanya. Burung-burung tetap berkicau dan menyanyikan senandung-senandung bahagia. Anjing-anjing di depan rumah tetap menggonggong dan meminta belaian kepada majikannya seperti biasa. Sayangnya, semua hal-hal kecil yang sempurna tersebut belum dapat mengubah keadaan Carlos.

“Carlos?” ujarku memanggilnya yang lagi-lagi termenung, duduk di ranjang dengan pandangan kosong. Sungguh, aku khawatir padanya. “Kakak mau makan apa?”

Carlos menatapku dengan pandangan ambigu, entah ia sedang memikirkan apa.  Wajahnya semakin hari menjadi semakin pucat, tubuhnya pun menjadi semakin kurus. Aku menduga ia kurang tidur karena kantung mata yang semakin bengkak dan menghitam. Carlos menoleh kea rah luar, mengernyitkan dahi lapangnya. “Mereka masih belum mau pergi.”

Aku memutuskan duduk di samping Carlos, yang tampak kusut dengan piyama berwarna merahnya. Saat ini jam sebelas, namun Carlos membingungkanku karena belum mandi dan belum sarapan. Ia hanya menatap keluar jendela dengan kegelisahan yang susah kuceritakan. Laki-laki tersebut mengusap kedua pipinya, berharap hal tersebut menjadikannya merasa lebih baik. “Orang-orang itu masih bilang mereka akan membunuhku kalau aku keluar rumah, Kelly.”

Ranjangnya pun terlihat berantakan, dengan selimut yang sudah tidak jelas lipatannya. Sepertinya, kasur tersebut sempat menjadi pelampiasan amukan Carlos. Aku semakin sedih melihat Carlos yang tak menentu namun tetap harus pergi kuliah, nanti sore.  Kamarnya yang bernuansa pop dengan warna-warna ngejrengnya menjadi tidak cocok sama sekali dengan keadaan calon sarjana teknik sipil tersebut sekarang. Boneka beruang yang tadinya terduduk tegap di meja sebelah menjadi rusak akibat digepeng-gepengkan. Kini, Carlos menatapku yang sedari tadi memang tidak tahu harus merespon apa. “Kelly, kalau aku dibunuh mereka, aku bakal dikubur dimana?”

Percakapan ini menjadi semakin parah. Aku pun mengeluarkan roti instan yang memang sedari tadi aku bawa dalam sebuah kantong plastik putih, menaruhnya di atas ranjang bernuansa biru tua kakakku tersebut.  Tak lupa, aku mengeluarkan botol air mineral dari kantong kain yang kubawa di tangan satu lagi. Sosokku duduk mendekati Carlos yang semakin panik melihat ke luar jendela. “Carlos, kamu terlalu banyak berpikir. Ayo makan dulu, orang-orang yang kau bicarakan itu tidak ada.”

“Kelly, jelas-jelas mereka bilang mereka lagi bawa pistol! Orang-orang itu sudah sangat siap untuk membunuhku!” Carlos mulai berteriak sengit sambil melingkupi kepalanya dengan kedua lengan kekarnya. Matanya tampak berkaca-kaca, ia sudah lelah dengan semua ini. Laki-laki tersebut tiba-tiba memasukkan dirinya dalam selimut, menjadikannya seperti lapisan kebab. “Alasan mereka nggak bunuh aku hanya karena kasihan pada Mama dan Papa!”

“Itu nggak benar.” Aku mengelus buntalan dalam selimut tersebut, walau tidak yakin apa yang aku lakukan ini benar. Carlos bergetar hebat, aku bisa mendengar jelas napasnya yang memburu. Badannya bergoyang-goyang naik dan turun tanpa irama yang jelas. Aku menempelkan sosokku pada selimut tersebut, diriku sangat ingin membuatnya merasa lebih baik. “Kamu lagi berhalusinasi, Carlos. Aku akan terus mengingatkankanmu, dan aku akan terus mendengarkanmu.”

“Kelly.” Carlos tiba-tiba memunculkan wajahnya dari balik selimut. Wajahnya merah dan penuh kerutan. Aku pun baru menyadari ia yang tambah kurus ekstrim dari tulang pipi yang semakin menonjol. Keadaan kakakku tersebut memprihatinkan, namun aku masih belum yakin tentang apa yang kulakukan. “Menurutmu, aku gila kalau aku nggak percaya sedikitpun padamu?”

“Nggak Carlos, kamu hanya butuh waktu untuk membuat dirimu sendiri senang.” Ujarku sambil mengusap punggungnya yang masih bersembunyi di balik selimut. Sosok yang dulu lebih besar dariku tersebut terlihat sangat lemas. Siapapun pasti akan sedih kalau diberitahu keadaan before dan after Carlos. “Kamu hanya sakit hati, dan pasti butuh waktu untuk membantumu mengampuni.”

“Aku bahkan udah  nggak bisa mengampuni diriku sendiri, Kel.” Carlos berujar sambil kembali memasukkan kepalanya ke bawah selimut. Mungkin saja, ia berharap ia tidak perlu keluar lagi dari persembunyiannya selamanya. Seandainya saja bisa. Carlos mendesah berat, meluapkan sedikit dari rasa frustasinya. “Kel, aku udah bikin Papa dan Mama nangis melulu kan?”

Papa dan Mama memang sedih akibat keadaan Carlos yang semakin mengkhawatirkan. Di saat yang sama, mereka tidak punya pilihan lain selain mendorongnya tetap kuliah ke kampus. Aku tahu mereka stres. Tapi, aku tahu juga mereka merasakannya karena sayang sama Carlos. Orang tuaku mengasihi Carlos Hutama, putra pertama mereka. Tak jarang, aku melihat Mama dan Papa menitikkan air mata setelah berhadapan dengan Carlos. Kini, aku memeluk buntalan tubuh Carlos tersebut, berusaha menambah kehangatan selimut yang mungkin selalu kurang. “Jangan mikir yang aneh-aneh, Carlos. Mereka sayang sama kamu.”

Melihat kondisi kakakku, aku terenyuh dan sesuatu menguatkanku untuk mulai melangkah ke kamar sebelah. Aku memaksakan diri untuk langkah pertama dan kemudian kaki berjalan begitu saja. Menuju ruangan kosong di lantai dua rumahku, mengambil sebuah alat musik yang entah kenapa membuatku merasa kuat. Aku kembali menuju Carlos dengan membawa task eras besar berwarna biru tua. Tanpa banyak berkata-kata, aku mengeluarkan biola 4/4 dan bow yang sudah tua milikku.

Carlos mendengar suara tersebut dan menaruh selimut tebalnya sedikit demi sedikit. Kakakku, yang memang tidak pernah aku panggil ‘kak’, muncul dan melongokkan kepala. Mata kosongnya kini terlihat lebih bernyawa dari sebelumnya. Ia terlihat lebih ‘manusia’. Aku tersenyum dan kembali memetik-metik senar dengan jariku. Aku mengecek semuanya, senar E, senar A, senar D, dan senar G. Oke, semuanya cukup baik dan tidak fales. Sangat memungkinkanku untuk memainkan sebuah lagu dengan lancar.

I can hold my breathe

I can bite my tongue

I can stay awake for days

If that’s what you want

Tanganku mengayunkan nada-nada tersebut. Lenganku bergerak dengan kekuatan besar dan kecil, aku sungguh terbawa masuk dalam suasana seperti ini. Mendadak, aku lupa waktu dan tempat. Aku tidak memikirkan aku sedang berada di mana, sedang sama siapa, dan apa yang tengah kuhadapi. Aneh, aku menganggap sebuah harmoni bagaikan sihir yang luar biasa indah.

I can fake a smile

I can force a laugh

I can dance and play the part

If that’s what you ask

Be your number one

Ya, mendadak waktu terasa berhenti. Atau, waktu terasa melompat pergi dan kita sedang berada dalam kehidupan berbeda. Kemudian, perasaan senang yang aneh muncul berdesir-desir dalam hatiku. Aku menikmati segalanya. Jari-jari lentikku sangat menikmati sensasinya, pikiranku yang mudah sekali kacau selalu menantikan momen-momen seperti ini.  Lenganku rileks, seolah amarah dapat dilampiaskan dengan begitu. Cukup begitu saja.

I can do it.

Suara lembut Carlos tiba-tiba terdengar, mengikuti nada gesekan senar yang kumainkan. Ia memang masih bersembunyi di bawah selimut, namun aku tahu ia sudah tidak setakut tadi. Badannya tampak lebih tenang dan sudah tidak bergetar hebat, Carlos sudah lebih tahu cara mengatur napasnya. Lagi-lagi, ia keluar sedikit demi sedikit dari selimut bermotif pahlawan super itu. Walaupun masih kaku, ia mulai menyunggingkan sebuah senyum kecil.

But I’m only human

And I bleed when I fall down

(Christina Perri- Human)

Tanpa perlu di atur-atur seperti guru yang mengarahkan kelas anak-anak ribut, kami berdua menikmati lagu pop yang berpesan kuat itu. Apalagi, diiringi dengan biola yang sudah menemaniku sejak kegiatan ekstrakulikuler di SMP. Hatiku sudah jatuh kepada benda tersebut. Aku tersenyum melihat Carlos yang sudah bisa mengendalikan dirinya. Ia pun berdiri dan membereskan tas dan buku-buku tebalnya. Ia mengelus kepalanya yang malang dan berjongkok meraih kertas-kertas di bawah meja. “Aku tetap harus kuliah walaupun ada pembunuh-pembunuh itu.”

Aku menemani Carlos turun ke lantai bawah, mendapati Mama yang sedang melihat-lihat brosur. Secara mencurigakan, ia langsung menutup selebaran-selebaran tersebut. Wanita berambut pendek yang masih anggun di usia kepala lima itu tersenyum khawatir melihat kami. Carlos sudah berganti baju dengan kaos berkeras berwarna abu-abu muda, sementara aku yang memang tidak masuk sekolah memakai kaos oblong seperti biasanya aku di rumah. Guru-guru sedang rapat evaluasi sehingga meniadakan kegiatan belajar-mengajar. Tak heran, banyak sorakan yang terdengar dari pelajar-pelajar yang sudah penat bersekolah. Carlos menoleh pada Mama yang sedikit tersenyum padanya, ia mendekati ibunya tersebut dan mengangguk. “Aku pergi kuliah dulu, Ma.”

“Hati-hati, Carlos.” Mama tersenyum perih setelah Carlos membalikkan punggungnya dan meraih motor sporty andalannya tiap hari. Motor memang lebih efisien menghadang macet yang nggak pernah bosan hadir tiap harinya. Apalagi, saat ini sudah siang dan pastinya makin macet. Aku melambaikan tanganku pada kakakku tersebut yang sudah tidak segontai tadi. Carlos pergi, meninggalkan aku dan Mama yang saling lihat-lihatan. “Kel,” Mama mulai berujar khawatir. “Carlos bagaimana keadaannya?”

“Ia masih menganggap ada orang-orang yang selalu membuntuti dan mau membunuhnya, Ma.” Aku berkata lirih, tidak ingin menambah perasaan buruk Mama dan Papa. Mereka berdua yang biasanya tenang dalam menghadapi masalah kini bagaikan anak ayam kehilangan induk. Blank, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Namun tadi kami bermain musik dan kelihatannya ia lebih tenang.”

“Kau tahu, Kel.” Mama berkata sambil membuka kembali brosur-brosur yang sudah bejibun banyaknya. Tulisannya besar-besar, dan semuanya berisikan kantor-kantor psikolog. Kertas-kertas berwarna-warni itu sudah tidak disusun secara beraturan. “Mama dan Papa udah nyari ke banyak sumber untuk memperbaiki hal ini.”

Aku mengangguk mengerti, duduk bersebelahan dengan Mama di meja makan tersebut dan mulai membolak-balik kertas-kertas selebaran itu. Psikolog, psikiater, dan ada brosur dukun penyembuhan pula. Semuanya tidak memiliki banyak gambar. Salah satu brosur berwarna hijau menarik perhatianku. Kemungkinan karena cara penyampaian pesan dan gambar-gambar yang eye-catching. Lagipula, sepertinya aku pernah mendengar tentang Klinik Kupu-Kupu yang dipromosikan kertas tersebut. Aku mendengar dari banyak orang kalau beberapa psikolog yang berpraktek disitu sangat oke dan profesional. “Ma, bagaimana kalau kita coba ajak Carlos berkonsultasi di klinik kupu-kupu? Disitu ada psikolog bernama Rina yang udah sering sekali masuk majalah, sepertinya boleh dicoba.”

Mama tertegun untuk sejenak. Kedua mata yang  tak pernah loyo tersebut terlihat berpikir keras, ia menaruh kedua tangannya untuk menopang dagu. Saat itu, ia terlihat energik dengan baju berlengan pendek trendi berwarna ungu. Satu hal yang pasti, kita nggak bisa mengasumsi keadaan orang tersebut dari tampak luar karena banyak orang yang pandai menyembunyikan perasaan.  Mama tiba-tiba tersentak dan mengambil ponsel dari tas kecil berwarna silvernya. Tanpa perlu waktu lama, ia sudah sibuk mengetik-ngetik. Mama mengangguk mantap melihatku, ia menyambungkan panggilan telepon dan menunggu seseorang di ujung lainnya menjawab teleponnya. “Ya, kita harus mencobanya.”

Aku menunduk, cemas dengan dengan benar-atau-tidaknya tindakan ini. Namun, kita tidak akan tahu jika kita tidak mencoba. Resiko tidak besar, jadi mungkin saja jalan tersebut memang harus di  ambil. Carlos butuh pertolongan, dan kami harus memberikannya hal tersebut.

Semoga semua jalan keluar segera ditunjukkan pada keluarga kami.

 

 

No comments:

Post a Comment