Tuesday, March 1, 2016

Berlari dalam Harmoni- BAB IV~ Bisa hidup terus


Kedua orang itu kembali ke rumah sore itu, setelah keduanya menyelesaikan pekerjaan di tempat masing-masing. Papa dari kantor dan rapat di gedung pemerintahan, sementara Mama baru saja dijemput Papa dari kantornya di sebuah rumah sakit. Papa yang mengenakan kemeja putih panjang selalu membawa tas kulit selempang kesayangannya, sementara Mama membawa tas jinjing berwarna merah. Suasana hening saat mereka masuk. Carlos mengurung diri di rumah akibat merasa tertekan, sementara aku duduk di ruang tamu dan tidak tahu mau berbuat dan berkata apa.

“Hai, Kelly.” Mama menyapaku yang menerawang nggak jelas di atas sofa empuk berwarna merah marun tersebut.  Beliau menaruh tasnya di sebuah kotak susun berwarna oranye. Kotak tersebut besar dan hampir menyentuh plafon ruang tamu, isinya adalah benda-benda seperti souvenir dan oleh-oleh dari luar kota. Bukan hanya itu, tapi Mama juga menyimpan barang-barang beliau seperti tas, sepatu, dan alat jahit di sana. Papa juga tak segan-segan memanfaat tempat dengan menitipkan obeng, bor, tang, pahat, dan segala peralatan beliau yang lainnya. Mereka terorganisir sekali sehingga tidak terlihat berantakan. Semuanya teratur dan enak di pandang. Wanita yang telah melepas kuncir rambutnya tersebut menempatkan dirinya disebelahku yang tampak selebor karena mengangkat kaki ke meja seenaknya. “Bagaimana sekolah hari ini?”

“Baik kok, Ma.” Aku menjawab sambil mengingat guru-guru yang dengan sengaja melongkapiku saat mengabsen. Sedih dan sakit rasanya. Aku tahu persis perasaan di saat kita terpuruk namun tetap harus profesional. Rasanya gemas dan kesal sekali. Di satu sisi, aku ingin mengeluarkan keluh kesah, namun aku juga tidak mau menambah beban orang lain. Diriku sendiri sudah cukup menyusahkan dan menyebalkan, dan akupun berpikiran untuk tidak mengungkit-ungkitnya. Tetap saja, aku tidak akan boleh menambah beban Mama dan Papa. Sebuah senyum kuberikan untuk menghapus kekhawatiran-kekhawatiran orang tuaku. “Seperti biasa, menyenangkan.”

Papa melepaskan beberapa kerah teratasnya dan duduk di sofa satu lagi yang berdiri miring Sembilan puluh derajat dari tempatku dan Mama. Beliau menggenggam secangkir air hangat dan meminumnya perlahan. Aku pun memerhatikan uban beliau yang semakin terlihat. Harus kusadari bahwa pria gagah tersebut semakin lama semakin tua, bukan aku saja yang semakin hari semakin gede dan banyak pikiran. Papa mengambil remot dan menyalakan televisi dengan suara yang samar-samar. Kami memang sering melakukannya bukan untuk menonton acara musik, pertandingan bola, ataupun berita, namun sekedar meramaikan suasana. Biasanya suara-suara tersebut selalu ampuh untuk mencairkan suasana. Papa menggulung celana kain panjangnya hingga lutut, kemudian ia memijat-mijat kaki. “Macet tadi lama banget yah, Papa sampai pegal nyetirnya.”

Memoriku kembali pada pagi harinya di kelas. Semua orang bernyanyi senang saat memberi kejutan ulang tahun kepada Freya, teman sekelasku. Gadis manis yang agak tomboy tersebut memang digemari semua orang karena supel, pandai berorganisasi, dan pandai dalam pelajaran pula. Ia cantik dan keren, secara tidak langsung aku mengakuinya sebagai idolaku. Oh iya, posisinya sebagai ketua OSIS membuatnya memiliki koneksi ke banyak orang dari berbagai angkatan. Nggak heran juga, dia banyak kenal dengan cowok-cowok yang akhirnya menyatakan perasaan suka kepadanya. Rambut panjang dan gigi gingsulnya memang membuat banyak orang terpesona dan jatuh hati. Anak itu hari ini berulang tahun ke-18. Satu kelas diam hingga jam istirahat, dan kemudian beberapa kakak kelas datang membawa kue sambil menyanyikan lagu wajibnya, ‘Happy Birthday’. Aku iri sekali. Penderitaanku belum selesai karena saat pulang sekolah, sebagian besar teman-teman di kelasku ikut memberinya kejutan ulang tahun dengan boneka-boneka dan kue lagi. Mereka semua tampak tulus dan bahagia. Apalagi Freya, wajahnya sudah berseri-seri bagaikan sang mentari di pagi hari. Terkadang, aku menyesali diriku sendiri yang nggak bisa bergaul.

“Ma.” Aku berujar pelan, berharap suaraku tetap nggak kedengaran. Cicak yang sedang bercerita cerewet di pojokan ruangan pun jadi terdengar besar di telingaku. Papa dan Mama melirikku tidak terlalu antusias, Mama tetap memainkan ponsel sementara Papa masih sibuk membolak-balik lembaran koran, mencari tahu apakah berita tentang dirinya sudah mereda. Semua keberanianku telah dikumpulkan, namun yang keluar tetaplah hanya lirihan kecil. “Nilaiku di sekolah akhir-akhir ini memburuk.”

“Kelly, kamu dulu kan rangking terus di sekolah.” Mama menatap dalam Kelly sambil menepuk pundaknya. Beliau memberi senyum yang berusaha menenangkanku, tapi perkataannya malah membuatku semakin khawatir. Sepertinya lama-lama aku mirip Carlos. Diriku yang payah ini terlalu takut mengecewakan semua orang. Aku yang masih bingung akhirnya mendekati posisi duduk Mama. Kali ini, aku sudah tidak selonjoran. Aku duduk cukup tegap. “Ma. Teman-temanku masih suka meledekku karena fitnah mengenai Papa.”

“Astaga, dasar penggosip-penggosip tidak ada kerjaan.” Papa akhirnya menoleh melihat dirinya ikut dibicarakan. Ia melipat koran tersebut kembali pada posisi semula, kemudian memutuskan untuk ikut bergabung dengan percakapan tersebut. Pembawa acara berita yang mengoceh di televisi masih tetap dicuekkin, seberapa antusias pun ia mengungkapkan masalah-masalah kontroversial di dunia politik Indonesia. Papa mengambil cangkir air hangatnya kembali dan menelan beberapa teguk sambil menarik napas panjang. “Mereka selalu ngurusin masalah orang lain, Kelly. Masalah kita.”

“Pa,” Aku masih bersuara kecil, nyaris berbisik. Jantungku berdebar kencang, wajahnya mulai panas. Keringatpun mulai menggenangi badan kecilku. Rambut sebahuku juga terlihat berminyak. Duh, pokoknya aku merasa gugup. Sore tersebut tidak banyak nyamuk, namun aku akhirnya malah merasa gatal-gatal sekujur tubuh. “Papa nggak terpikirkan untuk mengganti pekerjaan Papa? Papa nggak suka bekerja yang lebih tenang dari ini?”

“Papa sudah pernah berjanji pada diri Papa sendiri, Kel.” Papa yang lebih kelihatan lelah mendesah berat. Wajahnya yang mulai memunculkan keriput-keriput tampak betul-betul butuh istirahat, ia sudah mengalami banyak konflik beberapa tahun terakhir ini. Beliau belum berlibur tenang sekeluarga dengan kami, pula. Tentu saja, aku tidak terlalu memprotes mengenai hal itu. Aku juga masih tahu diri. Hidup sudah cukup susah, jangan di tambah susah. Papa yang sedari tadi mengangkat dan menaruh cangkir putih mungil akhirnya memberikannya pada Mama, meminta beliau untuk mengisikan air baru di cangkir kosong tersebut. “Seberapa susahnya hal ini, Papa akan terus berjuang dan berdedikasi. Keluarga besar Hutama dikenal dengan kehebatannya mempertahankan diri, Kelly.”

Beliau betul. Seandainya saja aku bisa menciptakan komitmen dan menjadi seulet Papaku. Entah mengapa, aku jadi merasa rendah diri. Aku tidak pernah mendengar keluhan Papa yang ingin keluar. Beliau mengeluh lelah, namun beliau tidak bilang ingin berhenti. Papa selalu mencari solusi dan jalan keluar dibandingkan memusingkan yang sudah-sudah. Ia bukan tipe terbuka, namun aku tahu beliau sebetulnya punya banyak pikiran yang berhasil ditampungnya sendiri. Tanpa merepotkan orang lain, baik Mama, Carlos, ataupun aku. Diriku yang gampang mengeluh membuatku merasa sangat manja. Sudah manja, tidak punya daya tahan sama sekali pula. Kurang parah apa aku?

Aku sekilas menatap televisi yang kini memunculkan nama lengkap Papa dalam sebuah teks. Agung Hutama, dalam tulisan besar-besar yang tentu saja bisa dilihat semua warga Indonesia dari Sabang sampai Merauka. Jangan melupakan juga warga-warga Indonesia yang tinggal di luar negeri yang tetap bisa mengakses televisi-televisi lokal. Lagi-lagi masalah politik. Orang yang betul-betul ingin bekerja malah mendapatkan banyak musuh. Beberapa orang yang mengambil jalur illegal malah dibela habis-habisan, dan tak jarang banyak yang menang. Papa yang sudah tampak tidak peduli malah melengos, dan kembali fokus pada komik bersambung di koran harian itu. Terkadang, aku merasa hidup ini tidak adil. Salahkah aku jika aku menyalahkan takdir yang telah digariskan? Astaga, si Kelly Hutama ini.

 

**

Aku masuk ke kamar Carlos di lantai dua. Sebetulnya, aku cukup mengkhawatirkan kamar kami yang berjauhan. Aku di lantai satu, Mama dan Papa di lantai satu, sementara Carlos memilih kamar terpencil di lantai dua. Terkadang, aku takut kakakku tersebut butuh pertolongan atau teman berbagi cerita. Aku tidak bisa menghilangkan rasa cemasku sendiri sehingga mengharuskan aku rajin-rajin naik dan mengetuk kamar Carlos. Perasaanku mewajibkanku untuk memastikan kakak kesayangan yang berbeda dua tahun denganku itu baik-baik saja.

“Halo, Kel.” Carlo yang sedang bersantai membaca buku teks kuliahnya menatapku. Pada saat-saat ia sibuk membaca, ia terlihat normal. Anak itu pandai sekali ‘bersembunyi’ dalam buku. Terkadang, aku iri padanya. Sepertinya diriku berbeda seratus delapan puluh derajat, aku baca komik saja suka pusing sendiri. Kamar bernuansa pop ngejreng Carlos seperti biasa rapi. Piala-piala kemenangan cerdas cermat dan pertandingan basket Carlos juga seperti biasa selalu nampang di meja dekat ranjangnya. Aku akhirnya memilih duduk di sebelah Carlos, di atas ranjang yang tidak terlalu luas itu. Desahan berat sudah tidak bisa kutahan lagi. “Hai. Kamu nggak apa-apa, Los?”

“Nggak apa-apa, kok. Orang-orang yang mengikutiku masih meneriakiku, tapi aku harus bersiap untuk kuis besok.” Ujar Carlos yang melari-larikan matanya pada teks buku yang penuh dengan rumus kecil-kecil tersebut. Ia hebat sekali tidak sakit kepala melihat tulisan dengan huruf yang tidak lebih besar dari gumpalan penghapus. Kalau aku, dijamin langsung sakit kepala setelah membaca paragraph pertama. Aku menikmati udara dingin dari pendingin ruangan di kamar Carlos. Nyaman sekali rasanya. Aku merasa ingin bercerita, dan tanpa pikir panjang aku segera mengeluarkan ponsel dari kantong celanaku.

To: Gino

Hai, Gin. Kamu lagi apa?

Aku melonjak senang saat ponselku bergetar hanya beberapa detik setelahnya. Layarku menyala heboh memberitahu adanya sebuah balasan yang kuterima. Aku membalikkan badan dan tengkurap di atas perutku, menikmati kasur dingin yang emang nggak pernah mengecewakan. Carlos tampak sedikit terganggu dengan kasur yang naik turun, namun akhirnya memutuskan untuk nggak peduli lagi.

From: Gino

Lagi mencoba-coba partitur lagu baru nih, Kel. Lo lagi ngapain? Ada apa enggak,  hari ini?

Anak ini sekarang merupakan satu-satunya temanku dan teman dekatku. Gino memiliki kedua posisi tersebut secara merangkap. Secara, teman-teman biasa saja aku tidak punya, apalagi teman dekat? Kini, Gino mengubah segalanya. Pola pikirku, sudut pandangku. Ah, laki-laki berkacamata dengan tampang cuek itu memang berbeda. Ia bersedia menemaniku dan pasti selalu perhatian setiap aku mengajaknya bercerita. Kami bercerita tentang banyak hal, walaupun seringkali hanya lewat pesan singkat. Aku terkadang bercerita soal masa depan, dan Gino terkadang bercerita betapa sekali ia ingin mengubah pikiran orang tuanya yang menganggap berkuliah jurusan musik adalah sia-sia dan tidak menjanjikan.

To: Gino

Gino.. menurut kamu, salah enggak kalau aku menyalahkan takdir? Aku menyalahkan Papa, dan terkadang aku juga menyalahkan teman-teman di kelas yang tidak mamu mendekatiku duluan. Atau, aku juga kesal dengan diriku yang salah dengan ketidakberanianku membuka lembaran baru

Terkirim. Ternyata, curahan hatiku panjang juga. Aku pun sering berpikir, mengapa Gino tidak pernah bosan dan lelah membalas semua pertanyaan-pertanyaan anehku? Mungkinkah ia sebetulnya risih denganku, namun tidak enak hati? Jangan-jangan, aku menyusahkannya juga.

To: Gino

No, maaf ya kalau aku sering banget mengganggu waktumu. Terkadang, aku merasa pusing memikirkannya sendiri. Tapi kalau kamu terganggu, kamu harus bilang dan nggak apa-apa kalau nggak mau bales lagi.

Lagi-lagi pesanku terkirim, tanpa membiarkan Gino memberi balasan apapun. Perasaanku selalu tidak enak setiap ada orang yang baik dan perhatian kepadaku. Hatiku selalu bilang kalau aku mengganggu orang tersebut. Mungkin saja, instingku benar dan aku harus lebih bisa menahan diri. Hidup sudah cukup susah, dan mungkin melibatkan orang lain adalah pilihan yang buruk? Aku menatap takut layar ponselku yang lagi-lagi menyala heboh.

From: Gino

Kelly, lo sama sekali nggak ganggu. Malah, gue senang kalau akhirnya bisa berguna dan membantu orang. Nah Kel, lo kayaknya butuh jalan-jalan. Gue ajak lo ke konser komunitas gue aja deh besok malam. Gimana? Ajak Carlos juga boleh, kok. J

Mulutku menganga lebar. Aku mencubit kulit tanganku sendiri dan malah meringis kesakitan, walaupun sambil sedikit tertawa. Ternyata, memang bukan mimpi. Ini adalah respon yang sama sekali tidak terpikirkan! Carlos menatap aneh aku yang mulai ketawa-ketawa dan merona sendiri. Ia membalikkan buku struktur dan konstruksi sipilnya, kemudian menyenggol lenganku iseng. “Ada apa, Kel?

“Los.” Aku masih tertawa kecil seperti orang yang betul-betul tidak waras. Tanganku mulai bergoyang ke kanan dan kekiri, membuat seluruh kasur Carlos ikut melonjak-lonjak. Kepalaku bergoyang-goyang tanpa arah yang jelas, aku mengibas-ngibaskan rambut bagaikan bintang rock di tengah konser metal. Aku pun meninggalkan sang pemilik ranjang yang masih kebingungan. Duh, dimanakah pengendalian diri Kelly yang biasanya? Aku masih terkikik malu sambil menari-nari kecil dengan lengan kiri dan kananku, rasanya bahagia sekali. “Besok temani aku ke konser musik klasik, ya.”

Aku tidak menjawab Carlos yang mengangguk antusias. Tanganku malah sibuk mengetik di ponsel, sembari merusaha menghentikan senyum ala manusia mabok beratku. Wajahku kini panas, dan ternyata ini bukan perasaan yang tidak enak. Malah, aku bagaikan memiliki stimulan untuk semangat dan melupakan kekesalan dan kesedihanku. Rasanya, aku bisa hidup terus jika terus merasa bahagia seperti ini. Mataku berbinar saat pesan baru telah berhasil terkirim.

To: Gino

Aku dan Carlos akan hadir, No. Kasih tahu alamatnya, ya. Nanti kami berdua naik taksi. Thanks udah ngajak! :-3

 

2 comments:

  1. wah hanna, jadi sekrang ganti blog? buat seterusnya apa bakal balik ke yang lama?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemungkinan disini, kak Ninda.. yg sebelumnya aku geregetan sama masalah google plusnya hehehe :")

      Delete