Kedua orang itu kembali ke rumah
sore itu, setelah keduanya menyelesaikan pekerjaan di tempat masing-masing.
Papa dari kantor dan rapat di gedung pemerintahan, sementara Mama baru saja
dijemput Papa dari kantornya di sebuah rumah sakit. Papa yang mengenakan kemeja
putih panjang selalu membawa tas kulit selempang kesayangannya, sementara Mama
membawa tas jinjing berwarna merah. Suasana hening saat mereka masuk. Carlos
mengurung diri di rumah akibat merasa tertekan, sementara aku duduk di ruang
tamu dan tidak tahu mau berbuat dan berkata apa.
“Hai, Kelly.” Mama menyapaku yang
menerawang nggak jelas di atas sofa empuk berwarna merah marun tersebut. Beliau menaruh tasnya di sebuah kotak susun
berwarna oranye. Kotak tersebut besar dan hampir menyentuh plafon ruang tamu,
isinya adalah benda-benda seperti souvenir dan oleh-oleh dari luar kota. Bukan
hanya itu, tapi Mama juga menyimpan barang-barang beliau seperti tas, sepatu,
dan alat jahit di sana. Papa juga tak segan-segan memanfaat tempat dengan
menitipkan obeng, bor, tang, pahat, dan segala peralatan beliau yang lainnya.
Mereka terorganisir sekali sehingga tidak terlihat berantakan. Semuanya teratur
dan enak di pandang. Wanita yang telah melepas kuncir rambutnya tersebut
menempatkan dirinya disebelahku yang tampak selebor karena mengangkat kaki ke
meja seenaknya. “Bagaimana sekolah hari ini?”
“Baik kok, Ma.” Aku menjawab sambil
mengingat guru-guru yang dengan sengaja melongkapiku saat mengabsen. Sedih dan
sakit rasanya. Aku tahu persis perasaan di saat kita terpuruk namun tetap harus
profesional. Rasanya gemas dan kesal sekali. Di satu sisi, aku ingin
mengeluarkan keluh kesah, namun aku juga tidak mau menambah beban orang lain.
Diriku sendiri sudah cukup menyusahkan dan menyebalkan, dan akupun berpikiran
untuk tidak mengungkit-ungkitnya. Tetap saja, aku tidak akan boleh menambah
beban Mama dan Papa. Sebuah senyum kuberikan untuk menghapus
kekhawatiran-kekhawatiran orang tuaku. “Seperti biasa, menyenangkan.”
Papa melepaskan beberapa kerah
teratasnya dan duduk di sofa satu lagi yang berdiri miring Sembilan puluh
derajat dari tempatku dan Mama. Beliau menggenggam secangkir air hangat dan meminumnya
perlahan. Aku pun memerhatikan uban beliau yang semakin terlihat. Harus
kusadari bahwa pria gagah tersebut semakin lama semakin tua, bukan aku saja
yang semakin hari semakin gede dan banyak pikiran. Papa mengambil remot dan
menyalakan televisi dengan suara yang samar-samar. Kami memang sering
melakukannya bukan untuk menonton acara musik, pertandingan bola, ataupun
berita, namun sekedar meramaikan suasana. Biasanya suara-suara tersebut selalu
ampuh untuk mencairkan suasana. Papa menggulung celana kain panjangnya hingga
lutut, kemudian ia memijat-mijat kaki. “Macet tadi lama banget yah, Papa sampai
pegal nyetirnya.”
Memoriku kembali pada pagi harinya
di kelas. Semua orang bernyanyi senang saat memberi kejutan ulang tahun kepada
Freya, teman sekelasku. Gadis manis yang agak tomboy tersebut memang digemari
semua orang karena supel, pandai berorganisasi, dan pandai dalam pelajaran
pula. Ia cantik dan keren, secara tidak langsung aku mengakuinya sebagai
idolaku. Oh iya, posisinya sebagai ketua OSIS membuatnya memiliki koneksi ke
banyak orang dari berbagai angkatan. Nggak heran juga, dia banyak kenal dengan
cowok-cowok yang akhirnya menyatakan perasaan suka kepadanya. Rambut panjang
dan gigi gingsulnya memang membuat banyak orang terpesona dan jatuh hati. Anak
itu hari ini berulang tahun ke-18. Satu kelas diam hingga jam istirahat, dan
kemudian beberapa kakak kelas datang membawa kue sambil menyanyikan lagu
wajibnya, ‘Happy Birthday’. Aku iri
sekali. Penderitaanku belum selesai karena saat pulang sekolah, sebagian besar
teman-teman di kelasku ikut memberinya kejutan ulang tahun dengan boneka-boneka
dan kue lagi. Mereka semua tampak tulus dan bahagia. Apalagi Freya, wajahnya
sudah berseri-seri bagaikan sang mentari di pagi hari. Terkadang, aku menyesali
diriku sendiri yang nggak bisa bergaul.
“Ma.” Aku berujar pelan, berharap
suaraku tetap nggak kedengaran. Cicak yang sedang bercerita cerewet di pojokan
ruangan pun jadi terdengar besar di telingaku. Papa dan Mama melirikku tidak
terlalu antusias, Mama tetap memainkan ponsel sementara Papa masih sibuk
membolak-balik lembaran koran, mencari tahu apakah berita tentang dirinya sudah
mereda. Semua keberanianku telah dikumpulkan, namun yang keluar tetaplah hanya
lirihan kecil. “Nilaiku di sekolah akhir-akhir ini memburuk.”
“Kelly, kamu dulu kan rangking
terus di sekolah.” Mama menatap dalam Kelly sambil menepuk pundaknya. Beliau
memberi senyum yang berusaha menenangkanku, tapi perkataannya malah membuatku
semakin khawatir. Sepertinya lama-lama aku mirip Carlos. Diriku yang payah ini
terlalu takut mengecewakan semua orang. Aku yang masih bingung akhirnya
mendekati posisi duduk Mama. Kali ini, aku sudah tidak selonjoran. Aku duduk
cukup tegap. “Ma. Teman-temanku masih suka meledekku karena fitnah mengenai
Papa.”
“Astaga, dasar penggosip-penggosip
tidak ada kerjaan.” Papa akhirnya menoleh melihat dirinya ikut dibicarakan. Ia
melipat koran tersebut kembali pada posisi semula, kemudian memutuskan untuk
ikut bergabung dengan percakapan tersebut. Pembawa acara berita yang mengoceh
di televisi masih tetap dicuekkin, seberapa antusias pun ia mengungkapkan
masalah-masalah kontroversial di dunia politik Indonesia. Papa mengambil
cangkir air hangatnya kembali dan menelan beberapa teguk sambil menarik napas
panjang. “Mereka selalu ngurusin masalah orang lain, Kelly. Masalah kita.”
“Pa,” Aku masih bersuara kecil,
nyaris berbisik. Jantungku berdebar kencang, wajahnya mulai panas. Keringatpun
mulai menggenangi badan kecilku. Rambut sebahuku juga terlihat berminyak. Duh,
pokoknya aku merasa gugup. Sore tersebut tidak banyak nyamuk, namun aku
akhirnya malah merasa gatal-gatal sekujur tubuh. “Papa nggak terpikirkan untuk
mengganti pekerjaan Papa? Papa nggak suka bekerja yang lebih tenang dari ini?”
“Papa sudah pernah berjanji pada
diri Papa sendiri, Kel.” Papa yang lebih kelihatan lelah mendesah berat.
Wajahnya yang mulai memunculkan keriput-keriput tampak betul-betul butuh
istirahat, ia sudah mengalami banyak konflik beberapa tahun terakhir ini.
Beliau belum berlibur tenang sekeluarga dengan kami, pula. Tentu saja, aku
tidak terlalu memprotes mengenai hal itu. Aku juga masih tahu diri. Hidup sudah
cukup susah, jangan di tambah susah. Papa yang sedari tadi mengangkat dan
menaruh cangkir putih mungil akhirnya memberikannya pada Mama, meminta beliau
untuk mengisikan air baru di cangkir kosong tersebut. “Seberapa susahnya hal
ini, Papa akan terus berjuang dan berdedikasi. Keluarga besar Hutama dikenal
dengan kehebatannya mempertahankan diri, Kelly.”
Beliau betul. Seandainya saja aku
bisa menciptakan komitmen dan menjadi seulet Papaku. Entah mengapa, aku jadi
merasa rendah diri. Aku tidak pernah mendengar keluhan Papa yang ingin keluar.
Beliau mengeluh lelah, namun beliau tidak bilang ingin berhenti. Papa selalu
mencari solusi dan jalan keluar dibandingkan memusingkan yang sudah-sudah. Ia
bukan tipe terbuka, namun aku tahu beliau sebetulnya punya banyak pikiran yang
berhasil ditampungnya sendiri. Tanpa merepotkan orang lain, baik Mama, Carlos,
ataupun aku. Diriku yang gampang mengeluh membuatku merasa sangat manja. Sudah
manja, tidak punya daya tahan sama sekali pula. Kurang parah apa aku?
Aku sekilas menatap televisi yang
kini memunculkan nama lengkap Papa dalam sebuah teks. Agung Hutama, dalam
tulisan besar-besar yang tentu saja bisa dilihat semua warga Indonesia dari
Sabang sampai Merauka. Jangan melupakan juga warga-warga Indonesia yang tinggal
di luar negeri yang tetap bisa mengakses televisi-televisi lokal. Lagi-lagi
masalah politik. Orang yang betul-betul ingin bekerja malah mendapatkan banyak
musuh. Beberapa orang yang mengambil jalur illegal malah dibela habis-habisan,
dan tak jarang banyak yang menang. Papa yang sudah tampak tidak peduli malah
melengos, dan kembali fokus pada komik bersambung di koran harian itu.
Terkadang, aku merasa hidup ini tidak adil. Salahkah aku jika aku menyalahkan
takdir yang telah digariskan? Astaga, si Kelly Hutama ini.
**
Aku masuk ke kamar Carlos di lantai
dua. Sebetulnya, aku cukup mengkhawatirkan kamar kami yang berjauhan. Aku di
lantai satu, Mama dan Papa di lantai satu, sementara Carlos memilih kamar
terpencil di lantai dua. Terkadang, aku takut kakakku tersebut butuh
pertolongan atau teman berbagi cerita. Aku tidak bisa menghilangkan rasa
cemasku sendiri sehingga mengharuskan aku rajin-rajin naik dan mengetuk kamar
Carlos. Perasaanku mewajibkanku untuk memastikan kakak kesayangan yang berbeda
dua tahun denganku itu baik-baik saja.
“Halo, Kel.” Carlo yang sedang
bersantai membaca buku teks kuliahnya menatapku. Pada saat-saat ia sibuk
membaca, ia terlihat normal. Anak itu pandai sekali ‘bersembunyi’ dalam buku.
Terkadang, aku iri padanya. Sepertinya diriku berbeda seratus delapan puluh
derajat, aku baca komik saja suka pusing sendiri. Kamar bernuansa pop ngejreng
Carlos seperti biasa rapi. Piala-piala kemenangan cerdas cermat dan
pertandingan basket Carlos juga seperti biasa selalu nampang di meja dekat
ranjangnya. Aku akhirnya memilih duduk di sebelah Carlos, di atas ranjang yang
tidak terlalu luas itu. Desahan berat sudah tidak bisa kutahan lagi. “Hai. Kamu
nggak apa-apa, Los?”
“Nggak apa-apa, kok. Orang-orang
yang mengikutiku masih meneriakiku, tapi aku harus bersiap untuk kuis besok.”
Ujar Carlos yang melari-larikan matanya pada teks buku yang penuh dengan rumus
kecil-kecil tersebut. Ia hebat sekali tidak sakit kepala melihat tulisan dengan
huruf yang tidak lebih besar dari gumpalan penghapus. Kalau aku, dijamin
langsung sakit kepala setelah membaca paragraph pertama. Aku menikmati udara
dingin dari pendingin ruangan di kamar Carlos. Nyaman sekali rasanya. Aku merasa
ingin bercerita, dan tanpa pikir panjang aku segera mengeluarkan ponsel dari
kantong celanaku.
To: Gino
Hai, Gin. Kamu lagi apa?
Aku melonjak senang saat ponselku
bergetar hanya beberapa detik setelahnya. Layarku menyala heboh memberitahu
adanya sebuah balasan yang kuterima. Aku membalikkan badan dan tengkurap di
atas perutku, menikmati kasur dingin yang emang nggak pernah mengecewakan.
Carlos tampak sedikit terganggu dengan kasur yang naik turun, namun akhirnya
memutuskan untuk nggak peduli lagi.
From: Gino
Lagi mencoba-coba partitur lagu baru nih, Kel. Lo lagi ngapain? Ada apa
enggak, hari ini?
Anak ini sekarang merupakan
satu-satunya temanku dan teman dekatku. Gino memiliki kedua posisi tersebut
secara merangkap. Secara, teman-teman biasa saja aku tidak punya, apalagi teman
dekat? Kini, Gino mengubah segalanya. Pola pikirku, sudut pandangku. Ah,
laki-laki berkacamata dengan tampang cuek itu memang berbeda. Ia bersedia
menemaniku dan pasti selalu perhatian setiap aku mengajaknya bercerita. Kami
bercerita tentang banyak hal, walaupun seringkali hanya lewat pesan singkat.
Aku terkadang bercerita soal masa depan, dan Gino terkadang bercerita betapa
sekali ia ingin mengubah pikiran orang tuanya yang menganggap berkuliah jurusan
musik adalah sia-sia dan tidak menjanjikan.
To: Gino
Gino.. menurut kamu, salah enggak kalau aku menyalahkan takdir? Aku
menyalahkan Papa, dan terkadang aku juga menyalahkan teman-teman di kelas yang
tidak mamu mendekatiku duluan. Atau, aku juga kesal dengan diriku yang salah
dengan ketidakberanianku membuka lembaran baru
Terkirim. Ternyata, curahan hatiku
panjang juga. Aku pun sering berpikir, mengapa Gino tidak pernah bosan dan
lelah membalas semua pertanyaan-pertanyaan anehku? Mungkinkah ia sebetulnya
risih denganku, namun tidak enak hati? Jangan-jangan, aku menyusahkannya juga.
To: Gino
No, maaf ya kalau aku sering banget mengganggu waktumu. Terkadang, aku
merasa pusing memikirkannya sendiri. Tapi kalau kamu terganggu, kamu harus
bilang dan nggak apa-apa kalau nggak mau bales lagi.
Lagi-lagi pesanku terkirim, tanpa
membiarkan Gino memberi balasan apapun. Perasaanku selalu tidak enak setiap ada
orang yang baik dan perhatian kepadaku. Hatiku selalu bilang kalau aku
mengganggu orang tersebut. Mungkin saja, instingku benar dan aku harus lebih
bisa menahan diri. Hidup sudah cukup susah, dan mungkin melibatkan orang lain
adalah pilihan yang buruk? Aku menatap takut layar ponselku yang lagi-lagi
menyala heboh.
From: Gino
Kelly, lo sama sekali nggak ganggu. Malah, gue senang kalau akhirnya bisa
berguna dan membantu orang. Nah Kel, lo kayaknya butuh jalan-jalan. Gue ajak lo
ke konser komunitas gue aja deh besok malam. Gimana? Ajak Carlos juga boleh,
kok. J
Mulutku menganga lebar. Aku
mencubit kulit tanganku sendiri dan malah meringis kesakitan, walaupun sambil
sedikit tertawa. Ternyata, memang bukan mimpi. Ini adalah respon yang sama
sekali tidak terpikirkan! Carlos menatap aneh aku yang mulai ketawa-ketawa dan
merona sendiri. Ia membalikkan buku struktur dan konstruksi sipilnya, kemudian
menyenggol lenganku iseng. “Ada apa, Kel?
“Los.” Aku masih tertawa kecil
seperti orang yang betul-betul tidak waras. Tanganku mulai bergoyang ke kanan
dan kekiri, membuat seluruh kasur Carlos ikut melonjak-lonjak. Kepalaku
bergoyang-goyang tanpa arah yang jelas, aku mengibas-ngibaskan rambut bagaikan
bintang rock di tengah konser metal.
Aku pun meninggalkan sang pemilik ranjang yang masih kebingungan. Duh,
dimanakah pengendalian diri Kelly yang biasanya? Aku masih terkikik malu sambil
menari-nari kecil dengan lengan kiri dan kananku, rasanya bahagia sekali.
“Besok temani aku ke konser musik klasik, ya.”
Aku tidak menjawab Carlos yang
mengangguk antusias. Tanganku malah sibuk mengetik di ponsel, sembari merusaha
menghentikan senyum ala manusia mabok beratku. Wajahku kini panas, dan ternyata
ini bukan perasaan yang tidak enak. Malah, aku bagaikan memiliki stimulan untuk
semangat dan melupakan kekesalan dan kesedihanku. Rasanya, aku bisa hidup terus
jika terus merasa bahagia seperti ini. Mataku berbinar saat pesan baru telah
berhasil terkirim.
To: Gino
Aku dan Carlos akan hadir, No. Kasih tahu alamatnya, ya. Nanti kami
berdua naik taksi. Thanks udah ngajak! :-3
wah hanna, jadi sekrang ganti blog? buat seterusnya apa bakal balik ke yang lama?
ReplyDeletekemungkinan disini, kak Ninda.. yg sebelumnya aku geregetan sama masalah google plusnya hehehe :")
Delete