Sunday, March 6, 2016

Berlari dalam Harmoni- BAB VII~ Peran


BAB VII

Aku terbangun karena suara gaduh di depan rumah. Setelah kuintip sekilas dari jendela di lantai atas, ternyata banyak orang-orang berseragam dengan perlengkapan kameranya. Banyak truk-truk dengan badan yang ditempelkan logo stasiun televise. Orang-orang muda yang ditugaskan kesini tersebut membawa microphone dan dengan hebohnya mengoceh tentang kasus Agung Hutama yang tidak hadir terus-terusan dalam rapat pengadilan.

Papa. Papaku masih dirawat di rumah sakit, dan tentu saja ia terus menolak untuk ditemui karena kondisinya yang masih belum stabil. Tifusnya masih belum sembuh sepenuhnya, dan memang Mama menginginkannya untuk terus bermalam di rumah sakit. Kondisi beliau masih pucat. Seperti yang sudah diduga, media massa memberitakan yang aneh-aneh. Papa kabur ke luar negeri bersama simpanannya lah, atau ia yang jangan-jangan punya rumah di luar negeri dan bersembunyi disana. Sebetulnya, kami tidak terlalu peduli hingga akhirnya fitnah-fitnah penyalahgunaan dana tersebut sangat mengganggu kesejahteraan keluarga kami.

Carlos, yang muncul dari kamarnya, ikut bergabung berdiri di jendela bersamaku. Padahal masih jam tujuh pagi, namun rusuhnya sudah seperti sore-sore saat berdesak-desakan mau antri pembagian sembako. Orang-orang mengambil lokasi berbicara didepan kamera dengan rumah kami sebagai latar belakangnya. Nomor rumah kami, 13, juga ikut kelihatan. Astaga.

Aku pun memberi kode mata pada Carlos, dan untungnya ia langsung paham. Kami berdua turun ke lantai bawah dan menemukan Mama yang sedang termenung di meja makan. Beliau tidak berekspresi apa-apa, namun aku bisa merasakan pikirnnya yang kusut. Aku pun mendekatkan badanku padanya, dan merangkulnya pelan. Ia masih diam tanpa ekspresi ketika Carlos duduk di sisinya yang satu lagi. Aku pun berbisik pelan untuk menghibur Mama, walaupun diriku sebetulnya juga bingung. “Apa yang harus kita lakukan, Ma?”

Jam terus berdetik ketika pintu rumah kami di ketok-ketok. Detik demi detik berlalu dengan begitu mencekamnya. Suasana hening tidak seperti biasanya. Rasanya jantungku juga berdetak dengan hebohnya saat ini. Aku juga mulai bisa mendengar tetangga-tetanggaku ramai-ramai berkerumun untuk menyaksikan kejadian ini. Ya ampun, apakah manusia itu betul-betul harus masuk ke dalam hidup orang lain dan kemudian mengolok-oloknya?

“Permisi, ini dari stasiun televisi Gagak. Tolong dibukakan pintunya!” Jam tujuh lewat lima menit, kami masih terdiam saat pintu diketuk dengan semakin kerasnya. Kami sudah tidak saling melihat lagi. Berada di dunia yang runtuh itu terkadang seperti mati rasa. Rumah ini, Jakarta ini, bumi ini, aku ingin pergi dari perabadan tersebut. Seandainya bisa kabur ke luar angkasa, aku akan melakukannya sekarang dengan senang hati. Lelaki bersuara berat di depan pintu masih belum menyerah. “Kalau tidak dibukakan, kami bisa mendobraknya, lho!”. Tanpa diduga, Mama langsung berdiri dan berlari menuju pintu depan tersebut. Aku tersentak kaget dan cemas. “Ma! Apa yang Mama lakukan?!”

Ia pun memutar kunci pintu dan membukanya lebar-lebar, membuat sinar-sinar dari kamera di depan masuk ke dalam rumah. Mama menyipitkan matanya sebentar, menyesuaikan diri dengan pencahayaan yang super banyak tersebut. Seandainya kamera-kamera tersebut meliput karena prestasiku, bukan karena masalah seperti ini. Andai saja aku tidak bodoh dan bisa membuat Mama muncul di media akibat menang lomba, atau dipanggil presiden karena mendapatkan nilai ujian paling tinggi. Seringkali, aku malu kepada diriku sendiri. Carlos membelalak saat Mama betul-betul melangkah keluar dan menghampiri wartawan-wartawan di depannya, tanpa menunduk ataupun goyah sedikitpun. Mama dengan wibawanya bertanya keras. “Ada yang bisa saya bantu, bapak-bapak?”

“Ya pemirsa, ini adalah istri dari Agung Hutama yang berhasil kami temui dalam liputan langsung saat ini. Selamat sore Bu, kami minta keterangannya ya.” Cowok berkacamata yang masih agak canggung tersebut berceloteh sambil melihat kameraman yang memberikannya kode anggukan untuk langsung memulai sesi tanya jawab. Mama dengan santainya menatap kamera. Mungkin banyak orang tidak menyadarinya, namun matanya berkilat marah. Aku pun memutuskan untuk ikut keluar dan menemani Mama, membuat wartawan-wartawan disitu semakin heboh. Aku pun memotong kalimat si pewawancara yang menoleh terhadapku. “Saya Kelly Hutama.”

“Baiklah pemirsa, ternyata putri bungsu dari Agung Hutama juga mau membantu memberi informasi.” Si cowok tersebut mengangguk sembari melihatku. Wajahnya berminyak dan tubuhnya dikujuri keringat, pasti ia sudah stand by di depan rumahku sejak subuh tadi. Entah mengapa gesturnya menunjukkan kalau ia salah tingkah. Aku menyentuh lengan kurus Mama, berusaha memberinya kekuatan. Si wartawan yang kini mendekati Mama mulai bersuara kembali. “Ibu, bagaimanakah keadaan Pak Agung Hutama saat ini?”

“Tidak sehat, beliau sedang sakit tifus.” Ujar Mama santai tanpa gentar. Ia berdiri tegak dan tidak terlihat gugup. Toni, si pewawancara yang namanya kulihat melalui name tag di seragam hitamnya, kembali mengembalikan microphonenya. Ia pun mulai mencatat-catat sampai ia didorong oleh wartawan lain karena gemas. “Ah, kamu mah lama kerjanya!”. Alhasil, Toni pun minggir dan digantikan oleh wanita berseragam hitam yang tampaknya lebih senior darinya. Selagi Mama berceloteh membantah semua fitnah yang dituduhkan kepada Papa, aku pun jadi terfokus pada Toni yang diam membisu. Aku bisa melihat ke matanya kalau ia sedih. Mungkin, ia adalah orang yang mirip denganku. Si pencanggung yang diremehkan orang.

“Mengerti? Pak Agung tidak melakukan penyelewangan dan kini ia tifus.” Mama mulai lelah dengan pertanyaan berentet yang ditanyakan berulang kali. Ia sudah mulai sinis dan mengeluarkan sarkasmenya. Aku tahu Mama hanya melakukannya jika ia merasa hal tersebut keterlaluan. Biasanya, ia adalah seorang wanita lembut bijaksana dan rendah hati. Mama selalu menasihatiku untuk berlaku baik, karena beliau adalah sosok yang menjunjung tinggi sopan santun. Kini, kelembutan tersebut berubah menjadi kesewotan. “Ada yang perlu ditanyakan lagi?”

“Oh, ya!” Mama mengambil microphone saat pewawancara wanita sedang mau menutup liputan tersebut. Ia merampas microphone tersebut saat liputan langsung, yang pasti akan membuatnya menjadi topik pembicaraan lagi. Namun aku tahu Mama bukan orang yang peduli akan omongan nggak penting orang lain, apalagi yang memang tidak benar. Kalau kita waras kita ngalah saja, ujarnya berkali-berkali setiap aku menceritakan teman-teman yang menggosipkan Papa. Mama berdiri langsung di depan kameraman, membuat kamera-kamera dari sisi kiri dan kanannya juga langsung ikut menyeretnya. Mama tersenyum kesal, dan tetap tidak goyah dan menunduk. “Jangan asal menuduh kalau tidak ada bukti.”

Suasana langsung rusuh lagi. Kameramen dan pewawancara mulai berpergian kembali. Kru dari stasiun televise Gagak juga mulai membereskan peralatannya. Aku melihat Toni yang masih termenung sendirian. Sosoknya kurus dan tinggi, membuatnya terlihat semakin lemah dibandingkan rekan-rekan yang berbadan besar seperti Rambo. Toni celingak-celinguk, dan akhirnya pandangan mata kami bertemu. Aku kaget saat ternyata ia berjalan perlahan menemuiku, memberikan senyum lemas namun tulus. “Halo Kelly.”

“Ehm.. hai?” Aku membalasnya bingung. Apakah yang harus kulakukan dalam kondisi seperti ini? Ngomong-ngomong, ia setinggi Carlos walaupun Toni pasti jauh lebih tua darinya. Aku menatap dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, canggung tentang apa yang harus kulakukan sekarang. Cowok tersebut menyodorkan tangan kanannya, yang kemudian langsung di lapnya dengan baju. Ya ampun, basahnya cukup keterlaluan juga. Toni pun tersenyum memamerkan gigi-gigi rapinya saat akhirnya kami berjabatan tangan. “Gue Toni.”

“Aku Kelly Hutama, kamu pasti udah tahu.” Ujarku berusaha ramah dan memberikan senyum takut-namun-senang. Ia mengangguk dan memberikannya kartu namanya kepadaku. Tulisan di kartu tersebut berhuruf cetak cukup besar. Toni Winata, junior reporter. Bahkan, dibawah namanya terdapat nomor telepon Toni yang bisa dihubungi. Aku menganga menatap Toni yang mukanya bersemu kemerahan. “Terima kasih tidak menyerangku.”

Ia pun langsung pergi menyusul truk stasiun Gagak yang ternyata sudah siap pergi. Toni melambaikan tangan malu-malu, sementara otakku masih mencerna kejadian yang tidak lazim ini. Jangan-jangan, Toni akan lebih terlibat dengan kehidupanku setelah ini. Entah tambah baik atau malah memburuk.

Aku, Mama, dan Carlos pun kembali ke dalam rumah dan bersiap-siap pergi. Mama ke kantornya seperti biasa menggunakan mobil, Carlos ke kampus, sementara aku akan naik ojek ke sekolah. Aku memang sudah telat, namun apaboleh buat. Sepertinya aku sudah tidak peduli mengenai peraturan bodoh dan menyebalkan itu. Pikiranku berubah setelah membaca pesan singkat Gino yang sudah sampai dari sepuluh menit yang lalu.

From: Gino

Kelly, lo kok belom masuk? Gue akhirnya ikut bolos pelajaran pertama deh, gue jemput lo ke sekolah sekarang ya.

Ya ampun Gino, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpanya. Gino, si cowok yang kutemukan secara tidak sengaja, ternyata seringkali menjadi malaikat pelindung yang sangat bisa kuandalkan. Ia tidak pernah bohong, begitupun kali ini. Walau aku belum menjawabnya, ia sudah hadir dengan motor kecil miliknya di depan pagar. Gino mengangguk pada Mama yang langsung melesat pergi ke kantor dengan blazernya. Walaupun aku tidak cerita kepada Mama nama cowok yang akhir-akhir ini menjadi temanku, namun sepertinya Mama sudah bisa menebak kalau Gino inilah orangnya.

“Los, aku duluan ya!” ujarku berteriak di dalam rumah, kemudian membawa tas ranselku dan duduk di jok belakang. Padahal Carlos berbeda kelas denganku, namun aku terharu ia bisa tahu aku belum sampai. Oh ya, lebih baik aku menanyakan hal tersebut padanya langsung. “Gino, kok kamu tahu aku belum sampai kelas? Aku di kelas IPA kan jauh dari kelas IPS di lantai bawah.”

“Sebetulnya gue emang tiap hari ngecek lo ada di kelas atau enggak kok.” Ujar Gino santai, namun langsung membuat ku batuk parah seperti nenek-nenek tersedak biji durian. Hatiku langsung berdebar nggak karuan lagi. Dasar Gino, anak ini sama sekali nggak bertanggung jawab membuatku dilihatin orang-orang di gang akibat batukku yang selalu heboh ini. Aku tak bisa menahan bibirku untuk tidak tersenyum walaupun aku tidak berbicara banyak. “Oh, gitu.”

Aku tahu aku di kelas bakal dicuekkin teman-teman seperti biasa, namun kali ini aku tidak peduli. Hal yang kupikirkan saat ini hanyalah hal yang bisa membuatku senang dan menyelesaikan masalah. Aku sendiri sebetulnya juga tidak menyangka aku bisa ikut maju ke depan kamera bersama Mama. Sepertinya, aku sudah bisa berani. Pasti karena pengaruh Gino yang selalu menemaniku juga.

Setiap hal yang terjadi dan setiap orang kutemui pasti memiliki peran, entah itu membuatku terkena masalah dan menjadi kuat atau ia membantuku mengenali diri sendiri yang bahagia. Selain biola, aku baru tahu ternyata manusia juga memiliki fungsi yang sama.

2 comments:

  1. Oh pemirsa ini adalah anak dari agung hutama, bagaimana perasaan anda ketika mendapat un tertinggi? Apakah anda mempunyai harapan untuk bisa bertemu dengan pak presiden?

    ReplyDelete
  2. nama carlos lucu ya kalau di indonesia panggilannya Los :v hahaha salah fokus nggak sih?
    btw apa daya mata 'dewasa'ku baca tulisan hana jadi siwer huhu, digedein dong han fontnyaa

    ReplyDelete